DAUN LONTAR, TIDAK HANYA SEBAGAI MEDIA MENULIS TAPI JUGA OBAT
Daun lontar, Tidak Hanya sebagai Media Menulis Tapi Juga Obat – Sudah tidak asing lagi kita mendengar daun lontar. Daun yang sering muncul dalam pelajaran sejarah ini menarik untuk dikupas. Daun lontar pada zaman dahulu banyak digunakan sebagai media menulis.
Lontar merupakan salah satu jenis palem yang berdaun seperti kipas dengan tinggi mencapai 30 m. Persebarannya mulai dari India hingga Asia Tenggara, Papua Nugini sampai Australia Utara. Persebaran lontar diduga berkaitan dengan rute perdagangan India pada masa pra sejarah.
Lontar atau lebih dikenal dengan nama siwalan adalah palem yang banyak tumbuh di daerah-daerah kering seperti di pulau Jawa bagian timur, Madura, Bali dan Nusa Tenggara. Lontar memiliki bentuk pohon yang tinggi dan tidak bercabang. Lontar tidak kalah tinggi dengan pohon kelapa, bahkan batangnya memiliki memiliki diameter yang lebih besar.
Pohon lontar merupakan penghasil nira lontar/siwalan. Nira siwalan adalah cairan yang diperoleh dari penyadapan mayang bunga jantan pohon siwalan.
Daunnya sendiri ternyata tidak hanya sebagai media menulis zaman dahulu saja, hal ini telah ada sejak zaman Rasulullah SAW di mana daun lontar dimanfaatkan sebagai obat penahan luka.
Pada saat perang Uhud Rasulllah SAW mengalami luka pada wajah dan giginya ada yang pecah, dan pelindung kepalanya rusak. Kemudian puteri beliau, Fatimah untuk membersihkan darah yang mengalir pada badan Rasulullah SAW dengan air dan Ali bin Abi Thalib menutupnya dengan perisai.
Namun, darah yang mengalir bertambah banyak. Fatimah memilih abu tikar yang terbuat dari daun lontar hingga darahnya berhenti. Daun lontar mempunyai pengaruh kuat pada pembekuan darah untuk mengobati luka Rasulullah SAW.
Hal itu tidak lepas dari kandungan yang ada dalam abu daun lontar yang dapat menghentikan pendarahan. Kandungan abu ini juga dapat menghentikan orang yang sedang mimisan.
Seperti yang dikatakan dokter filsuf Persia Ibnu Sina, Pengarang Al-Qanun, yakni daun lontar bermanfaat bagi pendarahan (hemmorrhage) dan mencegahnya.
Jadi, cukup mudah bukan untuk mengobati luka atau pendarahan. Selamat mencoba. Semoga sehat selalu. Amiin.. (Wardah)
Recent Posts
Bencana, Buah Narasi Kekuasaan dengan Citra Media
Bencana seringkali hadir dalam percakapan harian kita sebagai ‘tamu tak diundang’ yang menyebalkan, atau barangkali…
Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?
Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…
Gunung Rinjani: Milestone Etnopsikologis Suku Sasak
Gunung Rinjani bukan sekadar gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Bagi…
Melipat Luka, Merenda Asa, Merajut Cita
Dalam hitungan hari 2025 segera undur diri, sirna di ujung senja. Kalender baru telah bersiap…
Pemicu Timbulnya Stress pada Orang yang Sedang Mengerjakan Skripsi
Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa sarjana sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan…
Mental Health: Skripsi=Stres? Ngaji Galileo #4
Di dunia akademik, skripsi sering jadi momok yang menakutkan. Ada yang resah sejak judul belum…