Resensi: Lingkar Sajadah

Reading Time: 2 minutes

“Menulis bukan sekedar merangkai kata-kata, menulis membuat spektrum cahaya lebih berarti” (Arthur Mecca)

Anak muda memiliki energi khusus dalam fase hidupnya. Mencari sisi kehidupan, menerka kelak menjadi apa. Tidak ada kepastian hidup yang akan didapatkan. Hanya mimpi dan cita yang menjadi harapan. Namun, semua itu akan sirna tatkala anak muda berupaya mengaktualisasikan energi mereka dalam sebuah karya.

Semangat penulis buku Lingkar Sajadah dalam menuangkan imajinasi mereka adalah konklusi dari sebuah harapan. Membangun kata demi kata, menuju paragraf dan melegalkan pada sebuah cerita yang menarik. Tentunya ke”mau”an yang tinggi dari penulis muda dengan segala aktifitasnya dalam menimba ilmu di pesantren dan di sekolah.

Dengan membaca buku ini, pertama kita akan di ajak berpetualang pada masa remaja yang penuh gejolak. Masa pencarian identitas diri. Masa yang penuh dengan harapan dan harapan. Tentunya bagaimana seorang gadis yang sangat mencintai Barcelona menemukan sisi hidupnya di pondok pesantren.

Meninggalkan kampung halaman dengan iringan do’a dari orang tua mereka. Melepas anaknya dengan senyum dan merelakannya untuk tidak menatap dalam keseharian. Tiada lagi tawa, tangis dan manja mereka.

Mereka beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tangis malam usai berpisah merupakan pemandangan yang biasa. Mencoba tegar diantara selimut malam. Perlahan mereka temukan keindahan pesantren, bahkan mencintai pesantren daripada apapun.

Mereka berproses dengan lingkaran waktu. Lingkaran tanpa putus yang beralaskan sajadah. Alas yang yang penuh dengan do’a-do’a dan berisi dialektika masa depan. Bersama membagun ruang-ruang ilmu dalam kehidupan malam di pesantren. Jam tidur mereka terjang dengan produktifitas masa muda.

Pada cerita kedua, pembaca akan disajikan suasana istana kecil penuh cinta. Gadis tomboi yang menemukan cinta sejati di pesantren. Lika-liku metamorfosa kehidupan yang dipadukan dengan misteri yang akan membuat pembaca larut didalamnya.

Okaerinasai! Pada cerita ketiga, bercerita tentang persahabatan di negeri sakura. Kerinduan yang mendalam atas penjelajahan dari seorang sahabat yang berpindah-pindah dari Swiss, Prancis, Canberra, Roma, Amsterdam, lalu akhirnya kembali ke Kyoto. Penulis bercerita dengan gaya bahasa yang berbeda dan imajinatif. Sungguh penulis ini mampu bercerita menembus batas usianya.

Buku ini ditulis oleh santri Tebuireng yang sedang menimba ilmu di salah satu unit Pesantren Tebuireng, yakni di SMA A. Wahid Hasyim. Penulis menyadari bahwa pentingnya menulis sebagai passion di lingkar pendidikan non akademik. Mengaktualisasikan sebuah kebiasaan yang ditunjang dengan pengalaman yang menakjubkan sebagai seorang santri.

Judul Buku : Lingkar Sajadah
Jenis : Antologi Novelet
Penulis : Faiz Faiqoh, Riska Bela Adinda Rosita, Mumtaz Nabila Ulfah
Tebal : IV+ 132 hlm; 12 x 17.5 cm
ISBN : 978-602-8805-52-0
Penerbit : Pustaka Tebuireng

NgajiGalileo

Recent Posts

Bencana, Buah Narasi Kekuasaan dengan Citra Media

Bencana seringkali hadir dalam percakapan harian kita sebagai ‘tamu tak diundang’ yang menyebalkan, atau barangkali…

2 hari ago

Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?

Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…

6 hari ago

Gunung Rinjani: Milestone Etnopsikologis Suku Sasak

Gunung Rinjani bukan sekadar gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Bagi…

2 minggu ago

Melipat Luka, Merenda Asa, Merajut Cita

Dalam hitungan hari 2025 segera undur diri, sirna di ujung senja. Kalender baru telah bersiap…

2 minggu ago

Pemicu Timbulnya Stress pada Orang yang Sedang Mengerjakan Skripsi

Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa sarjana sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan…

3 minggu ago

Mental Health: Skripsi=Stres? Ngaji Galileo #4

Di dunia akademik, skripsi sering jadi momok yang menakutkan. Ada yang resah sejak judul belum…

1 bulan ago