Categories: News

WISATA KULINER PUJASERA ALA DESA

Reading Time: 2 minutes

Wisata Kuliner Pujasera ala Desa – Desa harus jadi kekuatan ekonomi, agar warganya tak hijrah ke kota. begitu sajak dalam lagu “Desa” yang diciptakan oleh sang legendaris Iwan Fals. Ungkapan dari kenyataan kehidupan didesa yang penuh makna patutlah dijadikan tambahan informasi penting bagi pemangku dan stakeholder desa.

Di antara ratusan desa di Bojonegoro adalah Desa Prayungan, Kecamatan Sumberejo, yaang terletak wilayah timur dari kota Bojonegoro mempunyai gagasan yang menarik dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang dimilikinya.

Memiliki aset desa yang terletak langsung dipinggir jalur provinsi, pemerintah desa sepertinya tidak mau menyia-nyiakan tanah yang dimiliki desa tersebut, ide untuk memulai membuat wisata kuliner pun tak terbendung lagi.

Pemerintah desa dituntut untuk mengikuti perkembangan baik informasi yang berkembang dimasyarakat maupun beberapa regulasi dari pemerintah diatasnya baik berupa Undang – Undang Desa, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah dan berbagai regulasi lainnya.

Tidak terkecuali desa yang dipimpin oleh Kepala Desa Drs.H. Imam Rofi’i dalam berinovasi juga tetap sesuai peraturan yang berlaku, wisata kuliner yang awalnya hanya pembicaraan biasa akhirnya diwujudkan menjadi tempat wisata kuliner yang representatif dan sangatlah nyaman.

Sesuai peraturan yang berlaku, pengelolaan wisata kuliner yang diberi nama “Pujasera Ndayohan” dibawah naungan Badan Usaha Milik Desa. BUMDesa desa prayungan memiliki beberapa unit usaha di antaranya, Wisata Kuliner (Pujasera), Hippam (Pengelolaan Air Bersih), Pertanian, Perdagangan Umum.

BUMDes yang bernama “Bangkit Sejahtera” Desa Prayungan ini diketuai oleh A. Almahmudin A. Sebagai ketua BUMDesa Udin sapaan akrabnya memiliki visi akan menjadikan BUMDesa agar dapat membuat perputaran ekonomi skala desa, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan memberikan peluang kepada masyarakat yg memiliki usaha mikro.

Senada dengan ketua BUMDesa, Bapak Rofi’I panggialn untuk Kepala Desa Prayungan juga memiliki harapan terkait rencana pengembangan usaha yang dikelola BUMDesa kedepan, Bapak Rofi’I mempunyai pandangan dengan memperhatikan sumberdaya yang dimiliki oleh desa, wisata yang sekarang baru wisata kuliner harapanya kedepan bisa ditambah menjadi rest area ditunjang embung desa dibelakang pujasera juga bisa dijadikan wisata alam.

Tambahan yang juga bisa dikembangkan adalah terdapat makam di desa Prayungan yaitu makam Tjok Brosot, makam ini sering dikunjungi oleh warga desa maupun dari luar daerah juga sering berkunjung kemakam tersebut, jika ini bisa dijadikan wisata religi saya yakin kedepan BUMDesa akan mampu memberikan kesempatan warga Prayungan untuk membuka usaha diwilayah wisata tersebut dan juga dapat menambah jumlah PAD Desa Prayungan, begitu harapan Bapak Rofi’I.

Peminat Pujasera Ndayohan

wisata kuliner yang berkonsep pujasera ini sangat strategis yaitu pada jalur provinsi, membuat daya tarik tersendiri untuk para pengguna jalan, khususnya para sopir lintas kota dan provinsi, baik truk, travel, ataupun rombongan keluarga.

Selain para pengguna jalan dri luar kota, tidak sedikit pengunjung yang berasal dari wilayah Bojonegoro khususnya dari kecamatan Sumberejo. Selain letaknya yang berada pada jalur provinsi, lokasi “Pujasera Ndayohan” ini juga berdekatan dengan SMAN 1 dan SMPN 1 Sumberejo hal ini membuat beberapa guru datang untuk makan siang atau rapat kecil di tempat ini.

Pujasera Ndayohan memiliki fasilitas seperti tempat parkir yang luas, mushola, toilet, hingga panggung hiburan, pengunjung lainnya biasanya datang kesini untuk tempat reuni, acara keluarga, rapat, atau acara lainnya, ditunjang dengan harga sewa yang terjangkau.

Para pedagang yang bejualan di “Pujasera Ndayohan” adalah masyarakat Desa prayungan sendiri, ada 4 kios yang disewakan, dan 1 kios dikelola oleh manager wisata kuliner / BUMDesa sendiri khusus menyediakan makanan yg menjadi ikon Kabupaten Bojonegoro yaitu Nasi Buwuhan, Nasi ndaut, Nasi goreng jawa, dan lain-lain. (Mubin)

NgajiGalileo

Recent Posts

Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?

Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…

1 hari ago

Gunung Rinjani: Milestone Etnopsikologis Suku Sasak

Gunung Rinjani bukan sekadar gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Bagi…

1 minggu ago

Melipat Luka, Merenda Asa, Merajut Cita

Dalam hitungan hari 2025 segera undur diri, sirna di ujung senja. Kalender baru telah bersiap…

1 minggu ago

Pemicu Timbulnya Stress pada Orang yang Sedang Mengerjakan Skripsi

Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa sarjana sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan…

2 minggu ago

Mental Health: Skripsi=Stres? Ngaji Galileo #4

Di dunia akademik, skripsi sering jadi momok yang menakutkan. Ada yang resah sejak judul belum…

1 bulan ago

Bencana dan Tanggung Jawab Kader Eksakta

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 22.468 kejadian bencana dalam kurun 2020 hingga 2024, didominasi…

1 bulan ago