WISATA KULINER: SEGO MENTRI KHAS DESA SEMBUNG
Wisata Kuliner: Sego Mentri Khas Desa Sembung – Sego adalah ungkapan dalam bahasa Jawa, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia mempunyai makna nasi. Hampir semua kuliner di negeri ini selalu bersandingan dengan nasi yang juga merupakan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia.
Kata “Sego Mentri” sendiri yang dimaksud adalah Sego Mener Sambal Teri. Mener berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna beras yang terpotong menjadi beberapa bagian, contoh beras Mener. Sedangkan sambal teri merupakan olahan khas sambal yang di dalamnya dicampur dengan ikan teri (jenis ikan laut yang berukuran kecil).
Bapak Moh. Arif Wahyudin, SH. Selaku Kepala Desa Sembung, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro menyampaikan bahwa desa Sembung merupakan desa yang tidak begitu luas sehingga kita selalu menggali potensi yang ada di desa ini, di antaranya memang ada kuliner yang kita sebut dengan sebutan sego mentri. Pengelola sego mentri ini adalah ibu-ibu PKK desa Sembung.
Awalnya kuliner sego mentri ini hanya digunakan untuk acara di desa saja. Namun sekarang sudah dijual untuk masyarakat umum, sehingga jika ada yang menginginkan untuk sekadar mencoba atau dijadikan makanan ketika sedang ada hajatan atau acara bisa langsung memesan di PKK desa Sembung dapat dipastikan harganya terjangkau.
Ayik, sapaan akrab Bapak Kepala Desa yang masih muda ini memiliki gagasan untuk mengembangkan sego mentri sebagai wisata kuliner khas desa Sembung. Di mana nantinya setiap rumah atau setidaknya halaman tempat tinggal penduduk ada spot obyek wisatanya. Karena itu, beliau memulainya dengan program agar desa semakin lebih tertata dan bersih, sehingga gagasan tersebut bisa terwujud.
Masih menurut Bapak Kades, obyek wisata di desa ini rencananya akan disupport dengan menyediakan wahana tempat bermain anak disetiap dusun, kalau memungkinkan disetiap RT. Dengan dilengkapi gazebo dan buku-buku bacaan, sehingga anak-anak bisa bermain sekaligus belajar.
Dari pihak kecamatan Kapas yaitu Bapak Mujianto, SH. selaku sekretaris kecamatan menuturkan bahwa secara fisik atau visual desa Sembung sudah berubah lebih baik, ke depan saya berharap ada terobosan-terobosan yang sekiranya lebih maju lagi dan cocok untuk karakteristik desa ini.
Ibarat gayung bersambut, pemuda bernama Abdul Rochim selaku pendamping di desa Sembung juga mengungkapkan bahwasanya desa dampingannya ini sekarang menjadi lebih baik, baik secara fisik maupun administratif serta pemerintah desa selalu melibatkan masyarakat dalam mengambil kebijakan terutama yang berkaitan dengan pembangunan desa. (Mubin)
Recent Posts
Bencana, Buah Narasi Kekuasaan dengan Citra Media
Bencana seringkali hadir dalam percakapan harian kita sebagai ‘tamu tak diundang’ yang menyebalkan, atau barangkali…
Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?
Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…
Gunung Rinjani: Milestone Etnopsikologis Suku Sasak
Gunung Rinjani bukan sekadar gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Bagi…
Melipat Luka, Merenda Asa, Merajut Cita
Dalam hitungan hari 2025 segera undur diri, sirna di ujung senja. Kalender baru telah bersiap…
Pemicu Timbulnya Stress pada Orang yang Sedang Mengerjakan Skripsi
Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa sarjana sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan…
Mental Health: Skripsi=Stres? Ngaji Galileo #4
Di dunia akademik, skripsi sering jadi momok yang menakutkan. Ada yang resah sejak judul belum…