Categories: News

Muktamar dan Nasi Empok

Reading Time: 2 minutes

Oleh Mustakim – Pengurus IKAPMII Galileo

Muktamar, forum tertinggi Pemgurus Besar Nahdlatul Ulama’ (PBNU). Konsolidasi akbar pertama abad kedua PBNU digelar di konpleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, tepatnya kawasan Tambakberas Jombang Jawa Timur. Muktamar ke 35 kali ini sangat dinamis. Banyak isu strategis menyeruak ke permukaan dan publik terlibat secara emosional.

Iya, Muktamar PBNU selalu menyedot perhatian masyarakat luas. Drama-drama politiknya masuk hingga mushola kecil di kampung-kampung pelosok nusantara. Bahkan, kaum Nahdliyin berbondong-bondong datang. Dari yang paling jauh hingga paling dekat. Seluruh moda transportasi terfungsikan secara massif. Untuk mengakomodir masyarakat, bazar UMKM dan hiburan rakyat digelar puluhan titik.

Paca hari terakhir Muktamar ini (Kalau tidak deadlock dan molor), yuk kita sederhanakan situasi dan keadaan. Hal-hal ruwet dan pelik, biar dipikir para peserta dan pengambil kebijakan organisasi terbesar ini. Sebagai Nahdliyin kultular mari bergembira ria dengan menyusuri tenda-tenda bazar. Menyelidiki model terbaru gantungan kunci sebagai buah tangan. Ngalap berkah dengan berziarah pada makam-makam Muasis NU di Jombang. Dan mencicipi kuliner agar lidah tidak terjebak rerasan yang kurang produktif. Rerasan yang produktif tentu ada. Banyak sekali forum intelektual yang digelar dan bisa diikuti di arena Muktamar.

Jika membincang kuliner Jombang, ingatan Nahdliyin kebanyakan merujuk pada Kikil kegemaran Gus Dur. Salah satu tokoh besar yang tetap hidup pada pikiran dan hati warga NU. Tapi puluhan tahun hilir mudik di Jombang, Muktamar kali ini saya baru kenal satu menu kuliner baru.

Saat berkunjung dan menginap di rumah sahabat lama yang hanya berjarak sekitar 15 menit dari arena Muktamar saya disuguhi nasi bungkus untuk sarapan. Sekilas biasa saja. Tetapi ada aroma baru menyelinap ke hidung saat bungkusan itu di buka. Itu menambah rasa penasaran.

Nasi jagung kuning menggumpal padat. Atasnya, selain urap ada tumis pepaya yang menggoda. Selain telur dadar ada lauk tambahan rempeyek. Bukan bertoping kacang atau teri. Tapi pindang pedho sebesar jempol kaki lelaki dewasa. Ikan asin yang tidak terlalu asin itu ludes, tandas bersama nasi jagung kuning. Tak tersisa, kecuali bungkus dan sendoknya.

Jangan cari menu itu di warung atau rumah makan. Carilah saat pagi hari di gang gang kampung. Namanya Nasi Empok (Sego Empok / Ampok). Ada kisah lainnya. Bukan tentang drama AHWA atau masa idah politik dalam Muktamar.

Namanya juga bukan peserta resmi Muktamar. Aktivitas di arena ya keliling mondar-mandir ngalor-ngidul. Banyak sekali posko milik rombongan rombongan penggembira, muhibbin, romli atau sebutan lainnya dari berbagai latar belakang. Hingga radius 10 km masih ada posko. Bahkan ada yang menyewa rumah warga di gang-gang sempit. Saat tiba dan singgah di salah satu posko, kebetulan disuguhi makan siang selepas Ashar. Nasi kotak. Kemasan kardusnya yang kotak. Bukan nasinya.

Nasi dengan menu ayam panggang. Tidak spesial. Di setiap daerah ada. Rasa nya enak, karena perut lapar. Saat hendak membuka sajian itu, diatasnya ada tulisan yang mengejutkan. Bunyinya : “Lezatnya terbawa Mimpi“. Sempat berpikir, jangan-jangan menyebabkan mimpi buruk. Ah tidak, sebagai satu dari ribuan penggembira, pasti mimpi yang menggembirakan. Solusi jalan tengah, satu kotak kita makan berdua bersama istri yang kinthil sejak hari pertama. Paling tidak bisa berbagi mimpi dari slogan nasi kita tadi. Tidur dengan mimpi yang sama. Entah baik entah mimpi buruk.

Oh iya. Akhirnya siapa yang jadi pemimpin kita yang dipilih oleh Ahwa? Semoga maslahat ya Gaesss…

NgajiGalileo

Recent Posts

PMII Galileo: Menapak Jejak, Menyemai Mimpi

Oleh Hadi Prayitno – Kader PMII Rayon Galileo (2000) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon…

5 hari ago

Wiwin Maisyaroh: Jejak Ketum IKAPMII GALILEO

Dr. Wiwin Maisyaroh, M.Si. adalah seorang biologi konservasi yang menulis buku Pemanfaatan Tumbuhan Liar dalam…

4 minggu ago

Sejarah Muktamar Nahdlatul Ulama: Perjalanan Muktamar XI–XXIII (Bagian 2)

Memasuki pertengahan dekade 1930-an, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi perubahan sosial dan politik yang sangat dinamis.…

1 bulan ago

Sejarah Muktamar Nahdlatul Ulama: Perjalanan Muktamar I hingga Muktamar Terbaru (Bagian 1)

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam…

1 bulan ago

Pendidikan Hari Ini! Ngaji Galileo #9

Pendidikan bukan sekadar proses belajar di ruang kelas, tetapi ruang untuk membentuk cara berpikir, memanusiakan…

4 bulan ago

Masa Depan Petani Buram atau Cerah? – Ngaji Galileo#8

Indonesia lahir dengan identitas yang melekat kuat sebagai Negara Agraris. Sejarah mencatat bahwa kemandirian bangsa…

5 bulan ago