
Reading Time: 3 minutes
Hadi Prayitno – Kader PMII Rayon Galileo (2000)
Saya baru dua kali menghadiri Muktamar NU: Pertama, Muktamar ke-34 di Kota Bandar Lampung pada Desember 2021 sebagai anggota panitia bidang kesekretariatan; Kedua, Muktamar ke-35 di Jombang pada Agustus 2026 sebagai panitia bidang penyusunan program. Dua peristiwa, dua pengalaman, dan dua kesan yang berbeda.
Peserta resmi, pemilik hak bicara dan hak suara Muktamar datang dari berbagai penjuru nusantara, sebagian lain dari beberapa negara. Kemeriahan Muktamar justru dipenuhi oleh nahdhiyin kultural, tidak memiliki kartu peserta resmi, berangkat secara mandiri, meluangkan waktu dan materi tanpa berharap biaya yang dikeluarkan ada yang mengganti. Mereka adalah wajah Nahdhiyin yang genuine: asli, tulen, dan tulus.
Jombang, sepanjang Agustus 2026 berselimut panji hijau. Bendera, baliho, umbul-umbul, dan aneka ornamen bergambar logo NU bertebaran memenuhi sudut-sudut jalan. Hotel dan segala jenis penginapan habis dipesan sepanjang waktu Muktamar. Berkah tersebut juga meluber sampai ke Kota Mojokerto, Kertosono, Nganjuk, Kediri, bahkan Kota Surabaya. Rumah-rumah warga dan tempat penyewaan kendaraan roda empat juga banyak dipesan rombongan penyelenggara maupun pengisi kegiatan pendukung. Roda ekonomi bergerak lebih cepat dengan jumlah berlipat dari biasanya. Muktamar NU ke-35 telah menebar berkah.
Saya sendiri telah menerima undangan untuk hadir sebagai peserta maupun pengisi acara pada beberapa kegiatan pendukung, di luar arena resmi Muktamar (side-event). Beberapa kegiatan yang dijadwalkan ternyata berbenturan jadwal dengan agenda sidang Komisi E (Program) hingga sidang pleno tempat saya bertugas.
Kelompok nahdhiyin non-struktural yang mengekspresikan kecintaan dan antusiasme mereka dengan menggelar kegiatan pendukung merupakan santri-santri lulusan pondok pesantren yang telah berkiprah dalam berbagai organisasi, lembaga pemerintah dan non-pemerintah, badan usaha negara dan swasta, hingga menjadi akademisi, jurnalis, dan peneliti multibidang. Santri tetaplah santri, pecinta NU dan kyai, meski kiprah dan karir mereka sudah terbang menjulang tinggi.
Saya juga bertemu dengan rombongan-rombongan warga nahdhiyin yang datang hanya untuk berziarah, masuk ke arena Muktamar untuk berfoto, bersua dan bersalaman dengan para tokoh sambil berziarah ke maqbarah tiga pendiri NU: KH. Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebu Ireng, KH. Bisri Syansuri di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, dan tentu saja KH. Wahab Hasbullah di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras.
Kritis Bukan Benci
Survei Alvara Research Center 2025 menunjukkan 57,2 persen warga muslim Indonesia mengidentitaskan dirinya sebagai Nahdliyin. Jika kita menggunakan estimasi populasi muslim Indonesia sekitar 244 juta orang, maka jumlah Nahdliyin secara kasar mencapai sekitar 140 juta orang. Angka ini membuat NU bukan hanya organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi juga salah satu komunitas keagamaan terbesar di dunia.
Saya menduga, hanya sebagian kecil dari populasi tersebut yang hadir dalam Muktamar ke-35 di Jombang. Itu saja sudah cukup membuat Jombang macet parah hingga jalan-jalan kecil yang tidak lazim dilewati. Sebagian dari mereka itu pula yang menggelar kegiatan-kegiatan pendukung bahkan sebelum Muktamar resmi dibuka.
Saya membaca berbagai pernyataan dan sikap yang dicatat para kolega dari kegiatan-kegiatan pendukung Muktamar. Ekspresi kecintaan dan kepeduliaan mereka curahkan dalam aneka pendapat dan sikap: catatan kritis, peringatan terbuka, harapan, dan kekhawatiran. Pesan-pesan tersebut tersebar melalui publikasi media massa dan media sosial dalam bentuk pers release, puisi, syair, lagu, dan potongan-potongan pendek video. Tujuan mereka hanya ingin berkontribusi agar jam’iyah dikelola dengan baik, benar, dan bertanggungjawab.
Ekspresi cinta dan kepedulian kelompok nahdhiyin non-struktural tersebut harus diterima dengan lapang dada. Mandataris Muktamar dan para pengurus yang ditunjuk harus membaca dan mencerna dengan kepala dingin dan pikiran terbuka. Catatan dan masukan kritis yang disampaikan kepada pemangku mandat semata untuk menunjukkan rasa cinta, bukan motif permusuhan dan rasa benci.
Santri Sains dan Teknologi
Saya hadir dalam rapat koordinasi nasional alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Galileo pada 29 Agustus 2026. Kelompok profesional muda yang pernah menekuni jalur akademik pada konsentrasi sains dan teknologi tersebut tetap menggenggam ajaran islam ala ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) an-nahdhiyah sebagai manhaj (metode) dan panduan hidup, meskipun sudah berkiprah dalam ruang kerja yang beragam.
Akar jiwa kesantrian yang mereka dapatkan dari pondok pesantren dan proses kaderisasi di PMII serta bekal pengetahuan akademik dari kampus telah membentuk pribadi-pribadi yang berbeda dari kelompok profesional lainnya. Sebagian telah mencapai titik stabil dalam hidup, tetapi tidak sedikit yang masih berjuang untuk mencapai apa yang mereka yakini sebagai puncak keberhasilan. Saya merekam dalam ingatan cerita-cerita alumni PMII Galileo, sebagian saya catat dengan tekun. Mereka masih berada pada tingkat pencapaian yang beragam, tetapi mereka memiliki kesamaan: keinginan yang besar untuk memberikan manfaat kepada sesama. Itulah sebenar-benarnya wujud dari mental generasi ulul albab.
Saya mengutarakan harapan sekaligus tantangan. Sepuluh tahun mendatang, akan lahir paling tidak 100 tokoh terkemuka dari rahim kaderisasi PMII Galileo yang menjadi rujukan, khususnya pada bidang akademik yang mereka tekuni: Biologi, Matematika, Fisika, Kimia, Teknik Informatika, Teknik Arsitektur, Teknik Mesin, dan Teknik Sipil. Tokoh-tokoh muda NU masa depan tersebut akan berkiprah untuk kemajuan bangsa Indonesia sekaligus tetap berkhidmah dalam struktur jam’iyah NU di berbagai tingkatan.
Sebagian menyiratkan keyakinan, sebagian masih diselimuti kekhawatiran, dan sebagian lain menguraikan syarat-syarat pokok untuk diajukan. Apakah cita-cita tersebut dapat diwujudkan? Mari kita ikhtiarkan.