Membangun dari Dalam, Mencerahkan Kemudian

Reading Time: 3 minutes

Catatan Kaderisasi: Al Muiz Liddinillah

Tren dan pola kepemimpinan atau organisasi senantiasa mengalami perubahan. Perubahan merupakan bagian dari hukum alam yang ada. Jika ada yang ngomong kita bisa melakukan perubahan besar tanpa kepemimpinan dan organisasi itu omong kosong. Kalau hanya untuk menjadi unggul secara pribadi dan melakukan kebaikan kecil saya kira mungkin, tapi untuk melakukan perubahan besar dan berkesinambungan saya pikir kok mustahil.

Dahulu, saat saya masuk PMII, doktrin yang melekat adalah organisasi ini lebih baik dari itu. Banyak senior kita yang menjadi menteri. Banyak juga dosen-dosen alumni PMII.

Jujur saja, doktrin seperti itu sudah tidak manjur dan efektif lagi. Hari ini kita berada pada dunia yang berbeda. Dunia yang mendorong kita semua menjadi manusia yang lebih manusia. Manusia yang tumbuh dengan kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna.

Dalam rangka itu semua, kita perlu berpijak pada akar. Akar ini berupa paradigma dan prinsip. Nah, di PMII keduanya ada. Jadi kalau pijakannya jelas, kaderisasi akan berjalan dengan tulus. Pengkader tidak bekerja dengan serabutan, asal rekrut saja, dan menggunakan cara pandang kolonial, eh konvensional.

PMII akarnya sangat kuat, sayang sekali kalau hanya dijadikan bonsai. Kita punya Nilai Dasar Pergerakan (NDP), Trilogi PMII, Aswaja sebagai manhajul fikr-harokah, dan tentu tujuan mulia PMII. Ada yang masih hafal tujuan PMII? Penting untuk menghafalnya, terlebih mengimplementasikannya dalam setiap gerak dan nafas kehidupan.

Mahasiswa ketika bergabung PMII, berarti dia tidak hanya bergabung dan belajar berorganisasi, tapi belajar menjadi manusia. Sampai kapan? Mulai saat Mapaba dan seterusnya, bergantung pada komitmen belajar dan berjuangnya.

Hal itu tidak berlebih. Kalau kita meninjau ulang tujuan dari PMII itu sudah mirip apa yang digagas Steven Covey dalam the 7 Habbits-nya. Memulai dari kemenangan pribadi menuju kemenangan publik, lantas berputar lagi bak bumi yang senantiasa mengelilingi matahari. Dan, mempelajari hal yang sama atau mendaras bacaan atau ilmu yang sudah pernah dipelajari itu juga menjadi penting, istilah Covey ialah mengasah gergaji.

Kita ulik lebih dalam tujuan PMII. Pertama: Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah Swt, berbudi luhur, berilmu, cakap. Nah, dari sini PMII mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang menang, menang dalam apa? Menang menjadi pribadi muslim yang giat belajar dan berakhlak baik.

Kedua, bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya. Ini semacam jembatan dari kemenangan pribadi menuju kemenangan publik. Kalau secara pribadi, kita sudah berilmu dan berakhlak. Kita bisa melalui jembatan mengamalkan ilmu dan tetap rendah diri menuju pengaruh yang lebih besar, menuju kemenangan publik.

Kemenangan publik ini ternyata juga terdapat dalam tujuan ber-PMII, yang ketiga, yakni berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Tujuan puncak inilah semacam tujuan kenabian. Sebagai kader PMII, harapan dari para pendiri agar kadernya bisa memberi manfaat yang lebih besar, dalam bidang apapun, tidak terbatas pada bidang akademik yang ditekuni.

Berangkat dari akar tadi, saya meyakini kalau kita ber-PMII dan berangkat untuk mencari kemenangan pribadi terlebih dahulu itu lebih efektif. Setelah lebih matang pada proses yang dilalui, barulah kader menuju laga berikutnya.

Itu kan egois? Pengen cari untung dari organisasi? Bukan begitu maksudnya. Tujuan untuk meraih kemenangan publik ini perlu dirumuskan bersama, agar setiap kader bisa bertumbuh-kembang sesuai potensi terbaiknya. Dan tidak lagi menggunakan logika seleksi alam.

Kaderisasi dengan membangun dari dalam ini bermaksud memberikan kesempatan yang sama kepada kader untuk belajar dan berproses. Kader diajak untuk membangun organisasi dengan kehadiran dan kesadaran. Hadir bukan berarti selalu ada, hadir berarti semangat belajarnya ada, berprosesnya ada, rasa memilikinya ada. Dan dalam proses membangun dari dalam ini, tidak ada menang kalah, yang ada adalah menang-menang.

Pada momentum pelantikan pengurus rayon pencerahan Galileo beberapa hari lalu, semoga tulisan ini bisa menjadi bahan refleksi bersama. Kita tidak bisa mengendalikan yang ada di luar, tapi kita hanya bisa mengendalikan diri kita, rayon kita, dan PMII secara lebih luas. Fokus membangun dari dalam terlebih dahulu. Kalau memang sudah bersinar, bisa memendarkan cahaya yang lebih luas. Saatnya membangun iklim kaderisasi yang lebih baik dan efektif.

Mari bersama ber-PMII dengan tulus.

NgajiGalileo

Recent Posts

Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan

Ah Mubin Masduqi, S.Si. M.Ling Pembangunan ekonomi yang pesat sering kali memberikan tekanan signifikan terhadap…

7 hari ago

Bencana yang Bisa Diperkecil: Membaca Resiko dari Data, Kapasitas Negara, dan Pengetahuan Masyarakat

Oleh: M. Izzuddin Bencana sering kali diperlakukan sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Ketika banjir datang,…

2 minggu ago

Muktamar Para Santri

Hadi Prayitno - Kader PMII Rayon Galileo (2000) Saya baru dua kali menghadiri Muktamar NU:…

2 minggu ago

Muktamar dan Nasi Empok

Oleh Mustakim – Pengurus IKAPMII Galileo Muktamar, forum tertinggi Pemgurus Besar Nahdlatul Ulama' (PBNU). Konsolidasi…

2 minggu ago

PMII Galileo: Menapak Jejak, Menyemai Mimpi

Oleh Hadi Prayitno – Kader PMII Rayon Galileo (2000) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon…

3 minggu ago

Wiwin Maisyaroh: Jejak Ketum IKAPMII GALILEO

Dr. Wiwin Maisyaroh, M.Si. adalah seorang biologi konservasi yang menulis buku Pemanfaatan Tumbuhan Liar dalam…

1 bulan ago