Perempuan Masak Gitu?!
Masih terkait dengan wabah atau Pandemi Global Covid-19. Keadaan semakin memburuk. Statistik menunjukkan trend kenaikan terus melaju.
Kondisi sosial ekonomi juga kian tak menentu. Beberapa kali muncul berita penolakan jenazah pasien positif virus.
Beberapa kali terjadi perselisihan antara warga perantau dengan pihak desa, terkait pemeriksaan dan isolasi mandiri. Sejumlah warga gelisah kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Pekerja non formal tak lagi leluasa mencari nafkah. Pekerjaan pemerintah semakin menumpuk. Soal kritik adalah hal lazim.
Tapi bukan soal itu yang akan kita ulas. Tapi mungkin akan sedikit menyenggol bias gender. Semoga tidak dimarahi bertubi-tubi.
Baiklah. Lembaga kesehatan dunia dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sempat menyerukan penggunaan masker hanya untuk yang mengalami gangguan kesehatan. Lantas diralat, setiap warga masyarakat disarankan memakai masker saat beraktivitas, meski terbuat dari kain.
Tentu saja kain yang halus, tidak seperti jenis kain Jeans atau dari kain yang dipakai celana seragam sekolah. Terkait hal itu muncul sejumlah anomali atau keanehan yang salah kaprah.
Coba mari sejenak kita amati kaum perempuan sekitar kita. Tetangga, saudara, teman atau siapa saja. Apakah mereka tidak mau memakai masker? Bukan. Justru mereka salah satu kelompok yang paling patuh memakai masker.
Bahkan sebelum wabah ini merebak seperti gosip yang tak jelas asal usulnya. Begini, sekali lagi amati ya?!.
Saat hendak beraktivitas tentu mayoritas perempuan akan merias diri di depan cermin. Bagi yang sudah mahir refleknya, mungkin tak membutuhkan cermin lagi.
Setelah yakin dan percaya diri akan perubahan menjadi lebih indah dan cantik dari sebelumnya, mereka baru mengenakan masker.
Keanehan apa itu? Kenapa mesti merias wajah yang pada akhirnya ditutupi masker? Iya kan? Aneh kan?!. Itu dapat disebut pemborosan.
Inefisiensi ditengah gejolak ekonomi akibat wabah global. Mbok ya, yang dirias yang nampak saja, separuh atas saja, yang tertutupi masker dibiarkan, sebagai bentuk penghematan atau efisiensi.
Jika ketahuan Bank Central atau International Monetary Fund (IMF) dan dijadikan salah satu faktor penyebab inflasi bisa jadi persoalan baru bagi pemerintah.
Dipikir-pikir, apa ini dampak dari iklan televisi dan media lain ya?. Dari lima iklan saat prime time, tiga adalah promosi produk kosmetik. Sisanya kadang iklan untuk anak-anak. Mulai berubah pola saat lepas puku 21.00 malam hingga dini hari. Saat menjadi kaum rebahan di depan tivi, pernah mengamati juga kan?!.
“Mbok Ya kumis itu ndak usah dicukur. Kan juga ditutupi masker!,” protes seorang perempuan yang muncul tiba-tiba sembari menenteng dompet kecil hendak beli bawang putih yang harganya juga tak terkendali.
Belum sempat terjawab, sudah hilang ngacir dengan sepeda motor matic kesayangannya, dengan masker yang tak ketinggalan. Tentu saja pagar tertutup dengan suara lebih keras dari biasanya.
Tulisan ini telah diterbitkan sebelumnya oleh Mustakimra
Recent Posts
Green Energy & Tech: Transforming Our World for a Sustainable Future
Green energy is no longer a futuristic dream. It is our present reality. From solar…
Innovative Water Cleaning Technologies for a Cleaner Bathroom
Bathrooms are essential in every home. They are also where most water usage happens. Cleaning…
The Convergence of Technology and Humanities: A New Era of Interdisciplinary Advancement
Technology and humanities were once seen as separate domains. However, in recent years, their convergence…
The Digital Classroom: How Technology is Shaping Education Worldwide
Education is evolving rapidly. Technology is playing a key role. Digital tools, online learning, and…
Pure Water for All: Community-Friendly Water Filters Using Appropriate Technology
Water is essential for life. But many communities lack clean drinking water. This leads to…
Unpacking Technology: A Simple Guide for Students and Workers
In today’s world, technology touches every aspect of our daily lives. From the smartphone in…