Reading Time: 2 minutes

Masih terkait dengan wabah atau Pandemi Global Covid-19. Keadaan semakin memburuk. Statistik menunjukkan trend kenaikan terus melaju.

Kondisi sosial ekonomi juga kian tak menentu. Beberapa kali muncul berita penolakan jenazah pasien positif virus.

Beberapa kali terjadi perselisihan antara warga perantau dengan pihak desa, terkait pemeriksaan dan isolasi mandiri. Sejumlah warga gelisah kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Pekerja non formal tak lagi leluasa mencari nafkah. Pekerjaan pemerintah semakin menumpuk. Soal kritik adalah hal lazim.

Tapi bukan soal itu yang akan kita ulas. Tapi mungkin akan sedikit menyenggol bias gender. Semoga tidak dimarahi bertubi-tubi.

Baiklah. Lembaga kesehatan dunia dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sempat menyerukan penggunaan masker hanya untuk yang mengalami gangguan kesehatan. Lantas diralat, setiap warga masyarakat disarankan memakai masker saat beraktivitas, meski terbuat dari kain.

Tentu saja kain yang halus, tidak seperti jenis kain Jeans atau dari kain yang dipakai celana seragam sekolah. Terkait hal itu muncul sejumlah anomali atau keanehan yang salah kaprah.

Coba mari sejenak kita amati kaum perempuan sekitar kita. Tetangga, saudara, teman atau siapa saja. Apakah mereka tidak mau memakai masker? Bukan. Justru mereka salah satu kelompok yang paling patuh memakai masker.

Bahkan sebelum wabah ini merebak seperti gosip yang tak jelas asal usulnya. Begini, sekali lagi amati ya?!.

Saat hendak beraktivitas tentu mayoritas perempuan akan merias diri di depan cermin. Bagi yang sudah mahir refleknya, mungkin tak membutuhkan cermin lagi.

Setelah yakin dan percaya diri akan perubahan menjadi lebih indah dan cantik dari sebelumnya, mereka baru mengenakan masker.

Keanehan apa itu? Kenapa mesti merias wajah yang pada akhirnya ditutupi masker? Iya kan? Aneh kan?!. Itu dapat disebut pemborosan.

Inefisiensi ditengah gejolak ekonomi akibat wabah global. Mbok ya, yang dirias yang nampak saja, separuh atas saja, yang tertutupi masker dibiarkan, sebagai bentuk penghematan atau efisiensi.

Jika ketahuan Bank Central atau International Monetary Fund (IMF) dan dijadikan salah satu faktor penyebab inflasi bisa jadi persoalan baru bagi pemerintah.

Dipikir-pikir, apa ini dampak dari iklan televisi dan media lain ya?. Dari lima iklan saat prime time, tiga adalah promosi produk kosmetik. Sisanya kadang iklan untuk anak-anak. Mulai berubah pola saat lepas puku 21.00 malam hingga dini hari. Saat menjadi kaum rebahan di depan tivi, pernah mengamati juga kan?!.

“Mbok Ya kumis itu ndak usah dicukur. Kan juga ditutupi masker!,” protes seorang perempuan yang muncul tiba-tiba sembari menenteng dompet kecil hendak beli bawang putih yang harganya juga tak terkendali.

Belum sempat terjawab, sudah hilang ngacir dengan sepeda motor matic kesayangannya, dengan masker yang tak ketinggalan. Tentu saja pagar tertutup dengan suara lebih keras dari biasanya.

Tulisan ini telah diterbitkan sebelumnya oleh Mustakimra

NgajiGalileo

Recent Posts

Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?

Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…

3 hari ago

Gunung Rinjani: Milestone Etnopsikologis Suku Sasak

Gunung Rinjani bukan sekadar gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Bagi…

1 minggu ago

Melipat Luka, Merenda Asa, Merajut Cita

Dalam hitungan hari 2025 segera undur diri, sirna di ujung senja. Kalender baru telah bersiap…

2 minggu ago

Pemicu Timbulnya Stress pada Orang yang Sedang Mengerjakan Skripsi

Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa sarjana sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan…

3 minggu ago

Mental Health: Skripsi=Stres? Ngaji Galileo #4

Di dunia akademik, skripsi sering jadi momok yang menakutkan. Ada yang resah sejak judul belum…

1 bulan ago

Bencana dan Tanggung Jawab Kader Eksakta

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 22.468 kejadian bencana dalam kurun 2020 hingga 2024, didominasi…

1 bulan ago