Sejarah Muktamar Nahdlatul Ulama: Perjalanan Muktamar I hingga Muktamar Terbaru (Bagian 1)

Reading Time: 4 minutes

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, budaya, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) oleh para ulama, di antaranya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan sejumlah tokoh lainnya, NU terus berkembang menjadi organisasi yang mampu menjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menjawab berbagai tantangan zaman.

Salah satu forum tertinggi dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama adalah Muktamar Nahdlatul Ulama. Muktamar merupakan forum permusyawaratan nasional yang diselenggarakan secara berkala untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, memilih kepengurusan baru, menetapkan arah kebijakan, membahas persoalan keagamaan, serta merumuskan berbagai keputusan strategis yang menjadi pedoman warga NU.

Dalam perjalanan hampir satu abad, Muktamar NU telah menjadi saksi berbagai dinamika kehidupan bangsa Indonesia. Mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, masa Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi dan transformasi digital saat ini. Setiap muktamar mencerminkan respons para ulama terhadap perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan yang dihadapi masyarakat.

Artikel ini mengulas sejarah Muktamar Nahdlatul Ulama secara kronologis, dimulai dari Muktamar I hingga perkembangan berikutnya, beserta keputusan-keputusan penting yang memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan organisasi.

Pengertian Muktamar Nahdlatul Ulama

Secara umum, muktamar merupakan forum musyawarah tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Dalam forum ini, para ulama, pengurus wilayah, cabang, lembaga, dan badan otonom berkumpul untuk membahas berbagai persoalan organisasi.

Beberapa fungsi utama muktamar antara lain:

  • Menetapkan garis besar kebijakan organisasi.
  • Memilih Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
  • Membahas persoalan keagamaan melalui forum Bahtsul Masail.
  • Menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.
  • Menentukan arah gerakan NU dalam menghadapi tantangan nasional maupun global.

Melalui muktamar, NU menunjukkan tradisi musyawarah yang kuat, menjunjung tinggi persatuan, serta mengedepankan kebijaksanaan para ulama dalam mengambil keputusan.

Muktamar I Nahdlatul Ulama (1926)

Muktamar pertama diselenggarakan di Surabaya, beberapa bulan setelah berdirinya Nahdlatul Ulama.

Keputusan penting

  • Menetapkan struktur organisasi pertama Nahdlatul Ulama.
  • Menegaskan komitmen NU sebagai organisasi yang berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
  • Menetapkan program dakwah, pendidikan pesantren, dan pelayanan umat.
  • Memperkuat hubungan antarpesantren di berbagai daerah.

Muktamar pertama menjadi tonggak awal perjalanan NU sebagai organisasi yang tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga sosial kemasyarakatan.

Muktamar II Nahdlatul Ulama (1927)

Muktamar kedua dilaksanakan di Surabaya.

Pada masa ini, NU mulai memperluas jaringan organisasi hingga berbagai daerah di Nusantara. Pertumbuhan cabang berlangsung cukup pesat karena semakin banyak ulama dan pesantren yang bergabung.

Keputusan penting

  • Penguatan administrasi organisasi.
  • Pengembangan pendidikan Islam tradisional.
  • Peningkatan koordinasi antarwilayah.
  • Pembahasan hukum-hukum keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Muktamar ini menunjukkan bahwa NU mulai berkembang menjadi organisasi nasional.

3. Muktamar III Nahdlatul Ulama (1928)

Muktamar ketiga kembali membahas penguatan organisasi di tengah meningkatnya semangat kebangsaan Indonesia.

Keputusan penting

  • Memperluas dakwah Islam moderat.
  • Mengembangkan pendidikan pesantren.
  • Memperkuat ukhuwah Islamiyah antarumat Islam.

Pada masa ini, NU mulai berperan lebih aktif dalam isu-isu kebangsaan tanpa meninggalkan fokus utamanya sebagai organisasi keagamaan.

Muktamar IV Nahdlatul Ulama (1929)

Muktamar keempat menjadi momentum penting dalam memperkuat kelembagaan organisasi.

Keputusan penting

  • Penyempurnaan sistem kepengurusan.
  • Penguatan ekonomi umat melalui koperasi.
  • Peningkatan kualitas pendidikan pesantren.

Pembahasan mengenai kesejahteraan umat mulai mendapat perhatian lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Muktamar V Nahdlatul Ulama (1930)

Memasuki dekade 1930-an, tantangan sosial masyarakat semakin kompleks.

Keputusan penting

  • Penguatan dakwah di daerah pedesaan.
  • Pembinaan generasi muda.
  • Pengembangan lembaga pendidikan Islam.

NU mulai melihat pentingnya kaderisasi sebagai investasi jangka panjang bagi keberlangsungan organisasi.

Muktamar VI Nahdlatul Ulama (1931)

Perkembangan organisasi semakin pesat dengan bertambahnya jumlah cabang.

Keputusan penting

  • Penguatan konsolidasi nasional.
  • Penyusunan program pendidikan ulama.
  • Pembahasan persoalan fikih yang berkembang di masyarakat.

Forum Bahtsul Masail semakin berkembang sebagai ciri khas NU dalam menjawab persoalan keagamaan.

Muktamar VII Nahdlatul Ulama (1932)

Pada periode ini NU semakin dikenal sebagai organisasi Islam yang memiliki jaringan pesantren yang kuat.

Keputusan penting

  • Penguatan hubungan antarpesantren.
  • Penyempurnaan sistem organisasi.
  • Pengembangan dakwah di berbagai daerah.

Muktamar juga mendorong peningkatan kualitas pengajaran kitab kuning sebagai fondasi pendidikan pesantren.

Muktamar VIII Nahdlatul Ulama (1933)

Situasi politik Hindia Belanda mulai mengalami perubahan yang berdampak terhadap aktivitas organisasi masyarakat.

Keputusan penting

  • Menjaga persatuan umat Islam.
  • Penguatan pendidikan keagamaan.
  • Peningkatan pelayanan sosial masyarakat.

NU terus menegaskan perannya sebagai organisasi yang mengutamakan kemaslahatan umat.

Muktamar IX Nahdlatul Ulama (1934)

Perjalanan organisasi semakin matang dengan semakin luasnya penyebaran cabang.

Keputusan penting

  • Pengembangan administrasi organisasi.
  • Pembinaan kader ulama muda.
  • Penguatan peran pesantren dalam pembangunan masyarakat.

Muktamar ini memperlihatkan perhatian NU terhadap keberlanjutan kepemimpinan melalui kaderisasi ulama.

Muktamar X Nahdlatul Ulama (1935)

Muktamar kesepuluh menjadi penutup fase awal perkembangan Nahdlatul Ulama sebelum memasuki dinamika politik yang semakin kompleks menjelang Perang Dunia II.

Keputusan penting

  • Memperkuat konsolidasi nasional.
  • Pengembangan pendidikan dan dakwah.
  • Mendorong kemandirian ekonomi warga NU.
  • Penguatan peran ulama dalam membimbing masyarakat.

Berbagai keputusan tersebut menjadi fondasi bagi perkembangan NU pada dekade-dekade berikutnya, termasuk saat menghadapi masa pendudukan Jepang dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Penutup

Sepuluh muktamar pertama merupakan fase pembentukan karakter Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah, menjunjung tinggi musyawarah, mengembangkan pendidikan pesantren, serta memperkuat pelayanan kepada umat. Pada periode ini pula fondasi organisasi, sistem kaderisasi, dan tradisi Bahtsul Masail mulai terbentuk sehingga menjadi ciri khas NU hingga saat ini.

Pada Bagian 2, pembahasan akan dilanjutkan dengan perjalanan Muktamar XI hingga Muktamar XXIII, termasuk dinamika NU pada masa pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, demokrasi parlementer, hingga perubahan besar pada era Orde Baru.

Daftar Pustaka

  • Asy’ari, K.H. Hasyim. Ma’al Khutbatain (Khutbah Muktamar XVII Nahdlatul Ulama). Arsip Perpustakaan PBNU.
  • Feillard, Andrée. NU vis-à-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk, dan Makna. Yogyakarta: LKiS.
  • Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES.
  • Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama: Kembali ke Khittah 1926 (Keputusan Muktamar ke-27 NU). Jakarta: PBNU.
  • Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Laporan Kegiatan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama. Jakarta: PBNU.
  • Chuseno, Imam. Gerakan Dakwah dan Pendidikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Pulau Jawa (Periode Muktamar ke-27 hingga ke-28). Disertasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
  • Zuhri, Saifuddin. Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS.
  • Bruinessen, Martin van. NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru. Yogyakarta: LKiS.
NgajiGalileo

Recent Posts

Pendidikan Hari Ini! Ngaji Galileo #9

Pendidikan bukan sekadar proses belajar di ruang kelas, tetapi ruang untuk membentuk cara berpikir, memanusiakan…

2 bulan ago

Masa Depan Petani Buram atau Cerah? – Ngaji Galileo#8

Indonesia lahir dengan identitas yang melekat kuat sebagai Negara Agraris. Sejarah mencatat bahwa kemandirian bangsa…

3 bulan ago

Menembus Dimensi Quantum: Analisis Saintifik Fenomena Lailatul Qadar dan Transformasi Energi Semesta

Lailatul Qadar, atau "Malam Ketetapan", merupakan fenomena spiritual paling signifikan dalam kalender Islam. Al-Qur'an mendeskripsikannya…

4 bulan ago

Skema Pembekuan Darah Pada Manusia

Reading Time: 3 minutes Bagaimana tubuh kita menghentikan pendarahan saat terluka? Simak penjelasan mendalam mengenai…

5 bulan ago

Bencana, Buah Narasi Kekuasaan dengan Citra Media

Bencana seringkali hadir dalam percakapan harian kita sebagai ‘tamu tak diundang’ yang menyebalkan, atau barangkali…

6 bulan ago

Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?

Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…

6 bulan ago