Guru Zuhdi, Ulama Banjar Kharismatik yang Sangat Disegani dan Dihormati

Reading Time: 3 minutes

Penulis : Risa

NgajiGalileo – Guru Zuhdi atau yang mempunyai nama lengkap K.H. Ahmad Zuhdiannor, adalah sosok ulama besar serta pemuka agama Indonesia yang juga dikenal sebagai mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Kalimantan Selatan.

Beliau lahir di Albio pada tanggal 10 Februari 1972, dari pasangan K.H. Muhammad bin Jafri dan Zahidah binti K.H. Asli. Ayahnya adalah pimpinan Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru pada tahun 1986, dan merupakan murid Al’allamah KH Anang Sya’rani Arif, pemimpin pondok pesantren Darussalam Martapura. Sedangkan kakeknya dari pihak Ibu, bernama K.H. Asli adalah tokoh ulama asal Alabio, Hulu Sungai Utara.

Sosok Ulama Kharismatik

Guru Zuhdi merupakan ulama kharismatik dan memiliki pribadi yang sangat santun, sederhana, dan tawadu. Beliau merupakan sosok yang sangat disegani dan dihormati oleh semua kalangan. Beliau sangat mengedepankan hormat terhadap yang lebih tua, sedang kepada yang muda beliau selalu memberi teladan dan nasihat. 

Guru Zuhdi juga dikenal sebagai ulama yang sangat memikirkan kepentingan umat. Termasuk saat semua umat sedang berjuang untuk bertahan hidup di tengah pandemi virus corona. Guru Zuhdi berharap wabah covid-19 segera berlalu dari kehidupan seluruh umat di dunia.

Mengenai riwayat pendidikannya, Guru Zuhdi memulai perjalanan belajarnya dengan mengikuti pendidikan formal yang dijalaninya sampai tingkat SD. Kemudian beliau melanjutkan belajarnya dengan berguru kepada ayahnya sendiri, yakni KH Muhammad bin H Jaferi al-Banjari.

Selain berguru pada sang ayah, beliau juga sempat menimba ilmu sebentar di Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru. Namun karena sering sakit-sakitan, beliau berhenti dan melanjutkan belajarnya pada sang kakek di Alabio selama satu tahun. Bidang ilmu yang beliau pelajari adalah ilmu tajwid, fikih, tashrif, tauhid, dan tasawuf.

Setelah kakeknya wafat, beliau melanjutkan bergembaranya untuk memperdalam ilmu kepada Muallim Syukur di Teluk Tiram Banjarmasin, di sana beliau belajar tasawuf, fikih, ushul fikih, arudh. Setelah sang Muallim wafat, beliau meneruskan belajarnya kepada Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau masyhur dikenal dengan Abah guru Sekumpul.

Pengaruh Abah Guru Sekumpul sangat lah kental dalam kehidupan Guru Zuhdi, Beliau disebut-sebut sebagai penerus Guru Sekumpul. Hal itu bisa dilihat dari pengajian yang beliau gelar. Bacaan-bacaannya berasal dari catatan tangan Guru Sekumpul. Sehingga banyak orang yang rindu dengan Guru Sekumpul merasa terobati dengan kehadiran Guru Zuhdi.

Guru Zuhdi mulai mengamalkan ilmunya dengan mengajar di Pondok Al Falah selama sekitar dua tahun, beliau juga banyak mengisi majelis taklim dan membuka pengajian di beberapa tempat, di antaranya pengajian di Masjid Banjarmasin, pengajian di rumahnya sendiri dan lain-lain.

Guru Zuhdi sering membahas mengenai ilmu tauhid dan tasawuf, serta menekankan pentingnya membersihkan hati. Beliau konsisten di jalur dakwah serta tidak masuk dalam dunia politik.

Selain sebagai ulama yang kharismatik, Guru Zuhdi juga akrab dengan dunia sepak bola. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat tim sepak bola Barito Putera, yang juga kerap sekali memimpin sebuah agenda yang diselenggarakan oleh Barito Putra.

Guru Zudi juga merupakan Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulma (PWNU) Provinsi Kalimantan Selatan pada periode 2018-2023. Selain itu beliau juga pernah aktif menjadi relawan pemadam kebakaran serta diangkat menjadi Ketua BPK Majta di Masjid Jami Sungai Jingah.

Guru zuhdi tutup usia pada tanggal 2 Mei 2020 pukul 06.43 WIB usai dirawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Sungguh mulia, beliau wafat dalam keadaan tersenyum seakan telah melihat surga.

Beliau didiagnosa mengalami kanker paru dengan differential diagnosis (dd) kanker kelenjar getah bening. Differential diagnosis adalah cara identifikasi penyakit lewat perbandingan gejala dengan gangguan lain yang serupa. Sebelumnya beliau sudah sempat menjalankan pemeriksaan rapid test dan juga swab PCR Covid-19 dan hasilnya adalah negatif.

Pemeriksaan tersebut dilakukan mengingat kondisi pandemi covid-19 yang sedang mewabah. Warga masyarakat yang mendengar kabar meninggalnya sang Guru, mulai berdatangan kerumah duka, mereka berdoa bersama untuk sang Guru di Masjid Jami Banjarmasin.

Beberapa petugas yang berjaga selalu memberi imbauan agar masyarakat yang datang tetap menjaga jarak dengan menjalankan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus korona yang pada saat itu sedang mewabah. Jenazah Guru Zuhdi di kebumikan disamping kediamannya di belakang Masjid Jami Banjarmasin.

Recommended For You

Tulis Komentar