1/4 Abad Rayon PMII Galileo: Jejak Langkah dan Api Perjuangan
Dua puluh lima tahun lalu (10 Juni 2000), di tengah semangat intelektual dan gairah pencerahan, Rayon PMII Galileo lahir dari rahim pergolakan zaman. Ia bukan sekadar ruang kaderisasi, namun juga rumah perjuangan. Tempat para mahasiswa berkumpul, berbagi gagasan, dan merajut cita menjadi nyata.
Rayon Galileo berdiri di tengah tantangan. Arus globalisasi sedang menggulung. Demokrasi Indonesia masih bertumbuh. Dan mahasiswa dituntut lebih dari sekadar hadir di ruang kelas.
Di titik itulah Galileo menancapkan akarnya: menjadi wadah bagi kader PMII yang tidak hanya taat nilai, tapi juga tangguh berpikir dan berani bertindak.
Kelahiran dari Kegelisahan
Tahun-tahun awal tidak mudah. Dengan segala keterbatasan fasilitas, pionir Galileo merintis gerakan. Diskusi dilangsungkan di ruang-ruang kecil, kadang hanya bermodalkan semangat dan kopi hitam.
Tapi di sanalah lahir pemikiran besar. Dan, gerakan nyata pun tercipta: sosial, keagamaan, sains hingga advokasi.
Nama “Galileo” sendiri dipilih bukan tanpa makna. Ia mencerminkan keberanian melawan arus. Seorang ilmuwan yang berdiri teguh pada kebenaran, meski harus berhadapan dengan kekuasaan. Nilai ini pula yang terus hidup dalam denyut rayon hingga kini.
Membumikan Nilai, Mengangkat Martabat
Dalam 25 tahun perjalanannya, Galileo telah melahirkan ratusan kader. Mereka datang dari berbagai latar belakang, namun dipersatukan oleh nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, semangat ke-Indonesia-an, dan cinta terhadap ilmu.
Berbagai gerakan dilakukan: pengabdian di desa, pelatihan kader, kajian rutin, advokasi kampus, hingga aksi sosial. Galileo bukan hanya bicara, tapi bertindak. Bukan sekadar hadir, tapi memimpin. Ia menjelma menjadi ruang dialektika yang sehat, serta kawah candradimuka kader unggul.
Tantangan dan Transformasi
Waktu berubah, tantangan pun berganti. Galileo menyadari bahwa dunia digital, disrupsi teknologi, dan krisis identitas pemuda adalah medan baru perjuangan. Namun nilai-nilai dasar PMII tetap menjadi kompas. Dengan transformasi organisasi, pendekatan baru dalam kaderisasi, serta adaptasi platform digital, Galileo terus melaju.
Tak hanya di kampus, kader Galileo kini mewarnai banyak ruang. Ada yang menjadi dosen, guru, aktivis, pengusaha, pemimpin daerah, hingga penggerak komunitas. Mereka membawa serta semangat kaderisasi yang ditanam sejak hari pertama mengenakan jas almamater dan mengikrarkan komitmen kebangsaan.
Refleksi 25 Tahun: Menyala Tak Padam
Satu perempat abad bukan hanya usia, tapi sejarah. Ia adalah bukti bahwa sebuah perjuangan yang dijiwai nilai akan bertahan melintasi zaman. Galileo tetap menyala, karena ia hidup dari api yang diwariskan generasi ke generasi.
Kini, saat kita menapak 25 tahun, mari menengok ke belakang dengan rasa syukur, dan memandang ke depan dengan semangat baru. Galileo bukan milik satu angkatan. Ia milik perjuangan pencerahan.
Ingat! Selama masih ada yang percaya bahwa ilmu dan iman bisa bersatu dalam gerakan, selama itu pula Galileo akan tetap hidup.
Karena kaderisasi bukan soal hari ini. Tapi tentang siapa kita 25 tahun lagi.
Recent Posts
Bencana, Buah Narasi Kekuasaan dengan Citra Media
Bencana seringkali hadir dalam percakapan harian kita sebagai ‘tamu tak diundang’ yang menyebalkan, atau barangkali…
Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?
Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…
Gunung Rinjani: Milestone Etnopsikologis Suku Sasak
Gunung Rinjani bukan sekadar gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Bagi…
Melipat Luka, Merenda Asa, Merajut Cita
Dalam hitungan hari 2025 segera undur diri, sirna di ujung senja. Kalender baru telah bersiap…
Pemicu Timbulnya Stress pada Orang yang Sedang Mengerjakan Skripsi
Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa sarjana sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan…
Mental Health: Skripsi=Stres? Ngaji Galileo #4
Di dunia akademik, skripsi sering jadi momok yang menakutkan. Ada yang resah sejak judul belum…