Sains, Alasan Kaca Mobil Lebih Kokoh dan Kuat
Kaca depan mobil dirancang sedemikian rupa agar saat terjadi benturan dengan benda keras seperti lemparan batu, maka pecahannya tidak terlontar kemana-mana.
Tapi, mengapa kaca biasa jika pecah akan menjadi kepingan sangat kecil dan banyak sekali, tidak dalam wujud lempengan-lempengan lebar?
Kaca depan mobil seperti roti lapis, dengan kaca sebagai sepasang roti yang kemudian bagian tengahnya diisi dengan sejenis plastik bening elastis. Ketika batu mengenai kaca depan, maka sebagian kaca tersebut akan tetap melekat pada plastik.
Pengolahan kaca depan mobil dibuat khusus sehingga lebih kuat dari kaca biasa. Hal tersebut karena para insinyur biasa menggunakan teknik praketan atau prestressing.
Penggunaan teknik praketan pada kaca depan mobil yang berarti bahwa sebelum dipakai bahan itu telah dibebani dengan sejumlah gaya yang besarnya tertentu.
Ketika kaca masih bertemperatur tinggi sehabis dibentuk, permukaannya didinginkan secara mendadak. Perlakuan ini mengunci struktur molekul kaca bertemperatur tinggi, yang memiliki struktur lebih luas daripada struktur kaca pada temperatur ruang.
Ketika kaca dibiarkan menjadi dingin secara pelan-pelan, bagian dalamnya akan mengkerut kembali ke struktur temperatur kamar yang lebih kencang. Akibatnya pada kaca tersebut ada perpaduan antara gaya tarik dan gaya tekan (tension dan compression) yang telah terkunci dalam kaca.
Energi yang tertahan terlepas secara mendadak ketika kaca itu pecah. Akibat energi tadi pecahan di satu tempat dengan cepat merambat seperti sebuah reaksi berantai ke seluruh permukaan yang semula tegang.
Hal tersebut membuat kaca depan mobil jika retak atau pecah akan cenderung melebar keseluruh permukaan dengan bentuk seperti taburan kerikil.
Sumber bacaan: Robert L. Wolke (2003), Einstein Aja Gak Tahu!
Recent Posts
Ngaji Galileo #5: Banjir Dibentuk atau Terbentuk?
Banjir kerap dipahami sebagai takdir alam: hujan deras, sungai meluap, lalu bencana terjadi. Namun benarkah…
Gunung Rinjani: Milestone Etnopsikologis Suku Sasak
Gunung Rinjani bukan sekadar gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Bagi…
Melipat Luka, Merenda Asa, Merajut Cita
Dalam hitungan hari 2025 segera undur diri, sirna di ujung senja. Kalender baru telah bersiap…
Pemicu Timbulnya Stress pada Orang yang Sedang Mengerjakan Skripsi
Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib diselesaikan oleh mahasiswa sarjana sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan…
Mental Health: Skripsi=Stres? Ngaji Galileo #4
Di dunia akademik, skripsi sering jadi momok yang menakutkan. Ada yang resah sejak judul belum…
Bencana dan Tanggung Jawab Kader Eksakta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 22.468 kejadian bencana dalam kurun 2020 hingga 2024, didominasi…