Terus Belajar Ditengah Berbagai Kenyataan
Oleh: M. Izzuddin
Ada masa ketika saya membuka kembali catatan-catatan lama dan menemukan banyak hal yang dulu saya anggap tidak terlalu penting; seperti potongan kalimat dari sebuah buku, gagasan yang saya tulis terburu-buru setelah membaca, catatan dari sebuah percakapan, atau pengalaman disuatu tempat yang saat itu terasa biasa saja. Sebagian catatan bahkan hanya berupa beberapa kalimat pendek dan pastinya tidak rapi. Tetapi ketika dibaca kembali seperti pada akhir-akhir ini, saya sering menemukan sesuatu yang berbeda. Ada pengalaman yang ternyata mengubah cara saya melihat persoalan, ada bacaan yang baru terasa maknanya setelah berhadapan dengan kenyataan, dan ada pula catatan yang membuat saya menyadari bahwa pandangan saya sendiri telah berubah. Dari situ saya belaja, bahwa mencatat bukan semata-mata agar sesuatu tidak terlupa. Didalam catatan tersebut, saya bisa melihat kembali apa yang pernah saya pikirkan, alami, dan bagaimana semua itu perlahan membentuk cara pandang saya.
Mungkin karena itu saya kemudian berpegang pada satu ungkapan sederhana dari Sahabat Hadi Prayitno, salah seorang senior di Rayon PMII Pencerahan Galileo, yang dalam teks penyampaiannya kira-kira begini;
“Barokahnya jadi kader PMII Galileo itu, jadi tekun mendokumentasikan bacaan dan pengalaman, meskipun awalnya aras-arasen.”
Lambat laun, pernyataan tersebut rasa-rasanya benar adanya, suatu proses personal saya yang barangkali juga dirasakan oleh orang lain. Ada rasa enggan yang sering muncul ketika harus membuka kembali catatan, merapikan tulisan, apalagi menuliskan pengalaman setelah menjalani hari yang panjang. Tetapi justru dari kebiasaan kecil yang sering terasa sepele itulah proses belajar dapat terus berlangsung. Apa yang dibaca tidak berhenti sebagai informasi, dan apa yang dialami tidak hilang begitu saja sebagai ingatan. Keduanya menjadi bahan untuk memahami sesuatu dengan lebih baik atau hanya sekedar menjadi pegangan bekal untuk kemudian hari.
Saya semakin menyadari bahwa belajar, dalam konteks seperti diatas bahkan secara umum tidak memiliki batas waktu dan ruang. Prroses itu tidak selesai ketika pendidikan formal berakhir, ketika seseorang telah lama bekerja dalam suatu bidang, atau ketika merasa telah memiliki cukup pengalaman. Justru semakin lama berada dalam satu bidang, semakin terlihat bahwa persoalan yang dihadapi jauh lebih kompleks daripada yang sebelumnya dibayangkan. Ada pengetahuan yang terus berkembang, pengalaman yang membuka perspektif baru, dan kenyataan yang memaksa kita meninjau kembali apa yang selama ini kita anggap sudah dipahami.
Karena itu, menjadi cukup tahu saja tidak pernah benar-benar cukup. Mengetahui sesuatu berbeda dengan memahami kenyataan dibaliknya. Kita hidup di tengah realitas yang barangkali sedang tidak baik-baik saja. Banyak persoalan tidak hadir secara sederhana dan tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui satu sudut pandang. Dibalik angka ada kehidupan, dibalik kebijakan ada kepentingan, dan dibalik sebuah persoalan kerapkali terdapat sejarah serta pengalaman manusia yang tidak segera terlihat dengan sendirinya. Membaca realitas semacam itu membutuhkan kesediaan untuk terus belajar, mendengar, mencatat, dan menguji kembali informasi dan pengetahuan yang kita miliki.
Pada titik ini saya teringat pada gagasan Viktor E. Frankl, seorang tokoh psikiater dan neurolog Austria, tentang ruang kebebasan manusia ditengah keadaan yang tidak selalu dapat dipilihnya. Gagasan Franklian tersebut bukan berarti manusia selalu memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan sesuai kehendaknya. Justru ada banyak hal yang berada di luar kendali kita. Namun, diantara kenyataan yang kita hadapi dan tindakan yang kita ambil, masih terdapat ruang untuk menentukan bagaimana kita memahami, menyikapi, dan merespons keadaan tersebut. Diruang itulah kesadaran dan tanggung jawab menjadi penting.
Barangkali, khusnudzon saya, proses belajar juga merupakan cara untuk memperluas ruang tersebut. Pengetahuan tidak hanya membuat kita lebih banyak mengetahui suatu hal, tetapi juga memberi kemampuan untuk membaca keadaan dengan lebih jernih sebelum menentukan sikap. Pengalaman membantu kita memahami bahwa kenyataan tidak selalu berjalan sebagaimana teori, sementara bacaan membantu kita melihat bahwa pengalaman sendiri juga memiliki keterbatasan. Ringkasnya, menurut Frankl (dalam karyannya, Man’s Search For Meaning), dalam situasi yang sulit sekalipun, pilihan mendasar nbukan soal keadaan, melainkan bagaimana kita meresponnya. Meski banyak hal yang bisa hilang dari kita, kebebasan terakhir tetaplah ada; yakni memilih sikap. Karena itu, saya merasa perlu terus mempertemukan keduanya dalam konteks membaca realitas melalui pengalaman dan membaca pengalaman melalui bekal pengetahuan.
Dari sini, kebiasaan mendokumentasikan bacaan dan pengalaman memperoleh arti yang lebih dari sekadar membuat arsip pribadi. Secara personal, catatan menjadi ruang untuk berbicara kembali dengan diri sendiri, menguji apa yang pernah saya pikirkan, dan melihat bagaimana sebuah pandangan terbentuk. Sesuatu yang dahulu saya anggap benar dapat berubah setelah berhadapan dengan pengalaman baru. Sesuatu yang semula tampak sederhana dapat menjadi lebih kompleks setelah dipelajari lebih jauh. Bahkan catatan yang pada awalnya dibuat dengan rasa aras-arasen bisa menjadi penanda perjalanan bagaimana cara berpikir perlahan terbentuk, diuji, dan berubah.
Saya kira semakin banyak belajar, semestinya seseorang tidak semakin merasa memiliki semua jawaban. Sebaliknya, ia semakin menyadari batas pengetahuannya sendiri. Kesadaran semacam itu bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk terus membuka diri terhadap pengetahuan, pengalaman, dan perspektif yang berbeda. Sebab kita tidak selalu dapat memilih kenyataan yang telah dan akan kita hadapi, tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana memahami, menyikapi, dan bertindak terhadapnya. Maka belajar, bagi saya, bukan sekedar usaha untuk menjadi lebih tahu. Lebih dari itu, secara konsekuen ia merupakan upaya untuk melihat kenyataan dengan lebih utuh, menemukan ruang untuk bertindak dengan segala pertanggung jawabannya.
Recent Posts
Membangun dari Dalam, Mencerahkan Kemudian
Catatan Kaderisasi: Al Muiz Liddinillah Tren dan pola kepemimpinan atau organisasi senantiasa mengalami perubahan. Perubahan…
Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan
Ah Mubin Masduqi, S.Si. M.Ling Pembangunan ekonomi yang pesat sering kali memberikan tekanan signifikan terhadap…
Bencana yang Bisa Diperkecil: Membaca Resiko dari Data, Kapasitas Negara, dan Pengetahuan Masyarakat
Oleh: M. Izzuddin Bencana sering kali diperlakukan sebagai sesuatu yang datang tiba-tiba. Ketika banjir datang,…
Muktamar Para Santri
Hadi Prayitno - Kader PMII Rayon Galileo (2000) Saya baru dua kali menghadiri Muktamar NU:…
Muktamar dan Nasi Empok
Oleh Mustakim – Pengurus IKAPMII Galileo Muktamar, forum tertinggi Pemgurus Besar Nahdlatul Ulama' (PBNU). Konsolidasi…
PMII Galileo: Menapak Jejak, Menyemai Mimpi
Oleh Hadi Prayitno – Kader PMII Rayon Galileo (2000) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon…