Brief Pengantar Masa Depan; Sebuah Resensi “Money” Karya Yuval Noah Harari

Reading Time: 4 minutes

Peresensi : Muhammad Bakhru Thohir

NgajiGalileo – Api memberi kita kuasa, gosip membantu kita bekerja sama, dan uang memberi kita sesuatu yang dapat dipercaya. Benar, uang memang alasan untuk kita percaya dan mau bekerja untuk orang lain.

Mau tidak mau, saat ini uang adalah entitas yang penting dalam hidup, bahkan uang bisa “menyuruh” orang melakukan hal yang tidak masuk akal. 

Apakah Anda masih ingat dengan youtuber Ferdian Palenka yang melakukan aksi prank pada transpuan? Ya benar, aksi prank itu adalah contoh konkrit bagaimana uang mengendalikan manusia dan membuatnya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. 

Pertanyaan menarik untuk memulai diskursus tentang uang adalah “sebenarnya uang itu entitas yang seperti apa?”

Brief singkat berjudul “Money; Hikayat Uang Dan Lahirnya Kaum Rebahan” yang diperas dari sari buku Sapiens dan Hono Deus karya Yuval Noah Harari bisa memberikan pintu masuk yang pas untuk menjawab pertanyaan itu. 

Buku setebal 166 halaman itu memberikan sebuah pengantar yang menarik sekaligus memiliki unsur yang bisa dikritik sana-sini tentang uang dan guna manusia. Brief Ini membuka peluang pada pembaca untuk dialektis dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Salah satu poin plus buku ini, memiliki peran pemantik. 

Secara singkat, buku itu dibagi atas tiga bagian besar; Pertama adalah hikayat dan asal-usul uang; Kedua adalah bagaimana pola uang menciptakan sistem kapitalis; dan ketiga adalah tantangan manusia di era 21 melawan artificial intelligence (AI) buatannya sendiri.

Meskipun terkesan loncat-loncat antara satu tema ke tema yang lain, buku ini memiliki sebuah jembatan yang menarik dan tidak membuatnya seperti 3 hal berbeda yang dipaksa untuk bersama. 

Dikemas dengan bahasa yang sederhana dan sesekali ada kisah, membuat brief ini tidak hanya mudah dipahami pembaca, tetapi juga membuatnya begitu hidup. 

Pada bagian pertama kita diberikan asal usul dan hikayat uang. Sesuatu yang mungkin tidak pernah kita sadari dan pikirkan. Hal ini bertolak pada kita, orang yang hidup di abad 21, yang sejak lahir tidak pernah mencoba sistem ekonomi lain dalam jual beli selain menggunakan uang. Meskipun kita tahu, dulu sebelum era uang, manusia melakukan sistem jual beli dengan barter.

Di titik ini, uang terlihat menjadi salah satu komoditas ciptaan manusia yang paling bermanfaat. Harari dapat menjelaskan dengan ciamik bagaimana rumit dan tidak efisiennya sistem barter. Semua masalah pada sistem barter mampu diselesaikan selepas uang tercipta. 

Selain itu, Harari juga mengisahkan beberapa wujud uang dari tahun ke tahun. Salah satu segmen yang ditayangkan Harari adalah saat umat manusia menggunakan kerang sebagai uang. Dan atas kisah ini, kita akan dibuat paham betapa uang sebagai wujud fisik bukanlah sebuah benda yang berharga, tetapi ia menjadi bernilai karena ada kepercayaan atas sebuah benda yang disepakati. 

Sehingga, bocah yang main pasar-pasaran dan menjadikan daun sebagai uang bukanlah hal konyol belaka. Karena pada nyatanya, kita sangat mungkin menjadikan daun sebagai uang. Asalkan ia disepakati sebagai benda yang bernilai oleh manusia. 

Saat ini mungkin Anda menyepelekan gagasan saya barusan. Mana mungkin daun yang tidak berguna bisa menjadi uang yang bernilai.

Tapi percaya atau tidak, pada mulanya emas juga mengalami nasib yang sama seperti daun. Semula ia tak berguna bahkan dibuang-buang. Tetapi atas dasar kepercayaan manusia yang berkembang, ia menjadi logam paling diburu dan dimuliakan.

Persis dengan uang kertas saat ini, sekarang kita masih percaya bahwa uang kertas adalah sebuah kekayaan. Tapi tunggu saja saat musim digital tiba dan uang juga dikonversi dalam bentuk digital – kebetulan saat ini sudah dimulai dengan munculnya banyak dompet digital. Anak cucu kita akan mengatakan bahwa uang kertas adalah sesuatu yang kuno dan tidak efisien karena harus dibawa di dompet.

Nanti, uang akan berubah menjadi bentuk digit digital di layar gawai, sesuatu yang bahkan fisiknya saja tidak ada. Kita akan menyebut seseorang itu kaya raya bukan dari seberapa banyak uang yang nyelip di dompetnya, tetapi dari berapa digit nominal di aplikasi dompet digitalnya.

Di sinilah kita bisa menyebut uang bukanlah sebuah benda fisik, tetapi sebuah kepercayaan.

Selanjutnya, brief sederhana ini juga menjelaskan tentang asal mula kapitalisme. Kita akan memahami bahwa kapitalisme adalah anak kandung dari uang. Dan kita juga akan menyadari kata kunci dari sistem kapital adalah “modal”.

Saya kutipkan satu kalimat yang membuat saya menyukai segmen ini;

“Seorang Fir’aun yang menggelontorkan sumber daya demi sebuah piramida yang non-produktif bukanlah seorang kapitalis. Seorang Bajak Laut yang menjarah armada harta-karun Spanyol dan mengubur peti penuh koin berkilauan di pantai sebuah pulau Karibia bukanlah seorang kapitalis. Namun, seorang buruh pabrik pekerja keras yang menginvestasikan kembali bagian dari pendapatannya ke pasar saham adalah seorang kapitalis.”

Setelah mengulas tentang kapitalisme, kita juga akan diajak menjajaki bagian terakhir yakni ketika modal kapital tidak hanya berbelanja dan membiayai proses produksi, tetapi juga peralatan produksi yang lebih efektif dan efisien, dialah artificial intelligence (AI). 

Harari adalah orang yang sangat percaya bahwa seluruh kerja manusia bisa digantikan oleh AI. Mempekerjakan AI adalah keputusan yang lebih masuk akal untuk diterapkan di masa depan.

Bahkan, Harari dengan pede mengatakan bahwa pekerjaan seperti dokter bedah pun bisa diwakilkan dengan AI. Bukan hanya karena kerjanya yang cekatan dan tak kenal lelah, tetapi yang lebih penting, AI lebih ekonomis. 

Membuat satu AI yang berperan seperti dokter spesialis jauh “lebih murah” daripada menyekolahkan satu manusia bertahun-tahun untuk Ia bisa menjadi dokter spesialis. Tentu hal-hal seperti ini sangat digandrungi pemodal. 

Ini adalah tantangan besar untuk keberlangsungan hidup manusia abad 21. Apakah seluruh kegiatan manusia akan digantikan oleh AI atau manusia masih memiliki peluang memiliki peran. 

Pertanyaan kunci dalam perdebatan ini adalah “lebih penting mana antara kecerdasan atau kesadaran?” Karena saat kecerdasan adalah jawaban, bisa dipastikan bahwa manusia tidak akan memiliki guna di masa depan. Tetapi mengingkari pentingnya kecerdasan untuk AI adalah kemunduran.

Contohnya adalah kalkulator. Kalkulator adalah AI dalam bidang menghitung, kita semua telah membuktikan bahwa kalkulator lebih cerdas dan lebih cekatan soal hitung menghitung dari manusia. Lebih baik membeli satu kalkulator (AI) untuk membantu berdagang dari pada menyekolahkan anak agar bisa menghitung dan membantu di pasar. 

Namun, AI tidak mungkin memiliki kesadaran. Gus Mus pernah nyeletuk begini;

“Saya punya komputer (AI) pintar sekali, Ia hafal qur’an dan beribu-ribu hadits, tapi ketika juragannya duduk di bawah, ia tetap nangkring di atas meja.”

Ujaran Gus Mus memang benar, namun ingat, perdebatan ini bukan soal punya kesadaran atau tidak, tetapi lebih penting mana kecerdasan atau kesadaran, terutama dalam dunia kerja. Sungguh penuh perdebatan kan?

Recommended For You

Tulis Komentar