JALAN SPIRITUAL PUISI JOKO PINURBO

Reading Time: 5 minutes

Pergulatan Kepenyairan

Suatu siang di Yogyakarta, di kafe yang riuh-redam oleh suara obrolan dan lalu lintas kendaraan, saya ditemani oleh seorang kawan yang rela direpotkan memperoleh kesempatan untuk mendengarkan kisah perjalanan kepenyairan Joko Pinurbo. Kala itu matahari cukup cerah untuk menerangi hati yang diam-diam tengah berduka, dan segelas kopi dingin mampu menguatkan kepekaan rasa, saya pun siap menyerap aliran kata-kata.

Dilahirkan dan tumbuh besar dalam kondisi yang sering sakit-sakitan, Jokpin, panggilan akrab Joko Pinurbo, mengakui bahwa ia mengalami masa kecil dan remaja yang kelam. Oleh sebab kerentanannya tersebut, Jokpin menjelma pribadi yang tertutup. Dia tidak memperoleh kesempatan untuk banyak bersentuhan apalagi berjalinan dengan dunia luar. Namun, menjadi seorang introvert justru memungkinkan Jokpin untuk memasuki pintu jiwa, melakukan perenungan, dan berdialog dengan dirinya sendiri. Berbagai peristiwa dan pertanda ia coba terjemahkan, tapi misteri tetaplah hakiki. Pada titik tertentu, pergulatan batin membutuhkan sarana pembebasan atau medium ekspresi demi menjaga kewarasan. Jokpin pun akhirnya menemukan ruang itu melalui menulis. Dia telah menulis sejak di sekolah menengah. Mulai dari esai, cerpen, hingga puisi. Beberapa kali juga pernah memenangkan kompetisi menulis saat di masa sekolah.

Selama proses awal berkaryanya, Jokpin memutuskan untuk memilih fokus pada puisi. Dalam puisi, memungkinkan permainan bahasa lebih variatif dan imajinasi liar lebih akomodatif. Fokus, dibutuhkan agar setiap karya yang lahir bisa maksimal. Joko Pinurbo telah memulai kerja puisi ini sejak usia 16 tahun. Berkarya dengan penuh ketekunan dan kesetiaan pada proses, Jokpin sadar bahwa ia tidak ingin menjual nilai berprosesnya sekadar hanya agar karyanya laku di pasaran ataupun menjadi terkenal lebih cepat. Dengan berpijak pada prinsip tersebut, Jokpin legowo buku puisi pertamanya “Celana” (1999) terbit di usia 37 tahun. Terlambat memang, menurutnya, namun karya-karya Jokpin menunjukkan bahwa dia telah matang dalam proses. Tidak heran bila setelahnya, karya buku-buku puisi lainnya mengalir deras dan diapresiasi baik oleh publik. Perjalanan tersebut bukan tanpa hambatan, di tahun 1880-an akhir hingga 1990-an awal Jokpin pernah tiga kali mengalami penolakan oleh penerbit. Akan tetapi, sebagaimana tiap kegagalan mengandung hikmah, pengalaman tersebut justru menjadi turning point bagi Jokpin untuk mengubah gaya puisinya secara radikal, mencipta gaya khas ‘Jokpin’.

Inspirasi Pengalaman Keseharian

Saat ditanya siapakah para penyair yang telah menginspirasi perjalanan kepenyairan Jokpin, Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono ungkapnya. Penyair pertama mengajarkan disiplin dalam memilih kata atau diksi, sedangkan penyair kedua menawarkan kesederhanaan dalam ide dan bahasa naratif; yakni bahwa puisi dapat diolah dari pengalaman hidup sehari-hari. Selain puisi “Dukamu Abadi” yang telah menggerakkan bakat estetik Jokpin, tiga puisi inspiratif SDD lainnya antara lain “Berjalan ke Barat di Pagi Hari”; “Pada Suatu Pagi Hari”; dan “Catatan Masa Kecil IV”. Di sisi lain, puisi-puisi Chairil Anwar yang menggugah Jokpin yakni “Sajak Putih”; “Tuti Artic”; dan “Malam di Pegunungan”. Pada dasarnya, bagi seorang penyair, hidup ini merupakan hamparan sastra. Segala sesuatu yang mampu dilihat, dirasa, dan dialami dapat menjadi sumber ilham untuk penciptaan puisi. Hujan yang luruh di balik awan; pedagang yang memanggul bakul kulakan; kepedihan kekasih yang ditinggalkan; politik agama yang menjemukan; segalanya, dapat menjelma puisi. Juga bagi saya, alam semesta beserta wajah terang maupun gelap takdirnya adalah puisi itu sendiri. Dan manusia, ialah puisi-puisi yang berjalan.

Puisi, sebagaimana seni lainnya, mewujud ruang permenungan bagi berbagai tafsiran atas realitas manusia yang mampu dicerap. Puisi merupakan guratan sang penyair memaknai tiap lapis pengalaman hidupnya. Itulah mengapa puisi bersifat subyektif, karena merefleksikan cara pandang penyair terhadap dunia yang dihidupi dan menghidupinya. Meskipun subyektif, visi dan nilai yang terkandung mungkin saja bersifat universal. Sehingga puisi pun menjadi relevan untuk dibaca dengan latarbelakang waktu dan ruang sejarah yang berbeda. Di level inilah puisi memiliki ketangguhan untuk tak lekang dari generasi ke generasi. Interpretasi sebuah karya puisi oleh pembaca secara tidak langsung dapat mengaitkan dirinya dengan penyair karena kedekatan pengalaman ataupun kesatuan rasa. Itulah momen ketika sebuah puisi mampu menggugah pembacanya. Puisi yang memiliki daya gerak (motion), bukan sebatas emosi (emotion).

Keputusan Jokpin untuk merombak total gaya puisinya ialah juga karena kesadaran bahwa ilham melingkupi segala peristiwa. Laksanan buah-buah ranum yang siap dipetik oleh tangan perenungan. Pada hakikatnya, hal-hal paling remeh dalam keseharian pun dapat diolah menjadi puisi. Hanya tinggal sejauhmana kemampuan si penyair dalam menghayati dan memaknai peristiwa tersebut. Suatu ketika Jokpin pernah berpergian dengan becak dimana pengayuhnya sudah sangat sepuh, hingga tak kuat lagi menggenjot saat jalanan mulai menanjak. Akhirnya, Jokpin memutuskan turun dari becak tersebut karena tidak tega. Itu adalah momen teramat puitis baginya. Dalam arti, inspirasi puisi tidak bisa terlepas dari problematika hidup manusia, mulai dari kemiskinan hingga kesunyian.

Apa yang dialami oleh Jokpin hanyalah sebuah contoh kecil bahwa keharuan semacam itulah yang merupakan berkah inspirasi bagi penyair, maupun seniman pada umumnya, untuk mencipta karya. Sebab sebuah karya sudah semestinya terikat kuat dengan pengalaman dan realitas sang kreator, sehingga menjadi bagian dari dirinya. Bagi Jokpin sendiri, puisinya adalah versi dirinya yang tersembunyi. Dengan demikian, antara karya dengan pencipta, atau puisi dengan penyair, saling mencerminkan satu sama lain. Di sinilah kemurnian dibutuhkan, agar karya yang terlahir jujur, manifestasi diri dari si pencipta. Lalu apa penanda dari kemurnian? Keharuan itu. Jadi, puisi jelas bukanlah rekayasa estetik ataupun akrobat kata-kata semata. Puisi adalah wajah keharuan penyair terhadap realitas tempatnya hidup

Dari Tragedi ke Komedi

Menelusuri histori keluarga seorang Joko Pinurbo, kedua orangtuanya asli berasal dari Yogyakarta, tetapi pernah merantau ke Sukabumi. Di kota itu Jokpin lahir. Ayahnya seorang guru Sekolah Dasar, dan ibunya mengkhidmatkan diri sebagai Ibu Rumah Tangga. Sebagai anak pertama, terlebih laki-laki, masa muda Jokpin mengalami pertarungan untuk segera mandiri secara ekonomi. Di tengah berbagai tekanan hidup yang ia tanggung, Jokpin menemukan bahwa jalan puisi menyelamatkannya dari cengkeraman pikiran dan emosi negatif. Dalam istilahnya sendiri, ‘puisi menghindarkan diri dari bunuh diri secara mental’. Melalui puisi sebagai medium katarsis, penderitaanya dapat dilarung sekaligus ditertawakan

Membaca karya-karya puisi Jokpin, di balik narasi sehari-hari dan pemilihan diksi yang sederhana, akan sangat terasa warna ironinya. Puisi-puisinya merefleksikan cara Jokpin dalam merespons derita dan kecewa yang adalah keniscayaan dalam hidup. Kemalangan sudah tidak lagi diratapi atau disesali, tetapi justru ditertawakan. Sebuah tingkatan penghayatan hidup dari ranah tragedi ke komedi. Di ranah komedi, meyakini bahwa segala sesuatunya tidak lain merupakan permainan takdir yang harus dinikmati dengan kegembiraan, meski getir. Ini merupakan wujud kematangan jiwa seseorang dalam menyikapi konstelasi takdir. Seseorang yang telah menemukan tujuan pencarian hidupnya. Lebih tepatnya, seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Tak lagi terganggu oleh ambisi apapun.

DOA ORANG SIBUK YANG 24 JAM SEHARI BERKANTOR DI PONSELNYA*

Tuhan, ponsel saya
rusak dibanting gempa.
Nomor-nomor kontak saya hilang semua.
Satu-satunya yang tersisa
ialah nomorMu.

Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor
yang tak pernah kausapa.

(2018)

*Dalam Buku Kumpulan Puisi “Perjamuan Khong Guan” (2020)

Puisi Jokpin yang saya kutip di atas menampilkan bagaimana ironi tersebut begitu kental. Ini adalah salah satu puisi beliau yang saya sukai, barangkali karena memiliki konektivitas pengalaman ruhani yang senada. Cara saya menginterpretasikannya kurang-lebih: kala hidup dipenuhi keberlimpahan, manusia seringkali lupa bahwa miliknya tersebut semata-mata bukti dari kuasa dan kemurahan Tuhan terhadap dirinya. Namun kala hidup diguncang akan kemalangan, barulah manusia mencari-cari Tuhannya, berkeluh-kesah, sekaligus demi memohon pertolongan. Seakan-akan Tuhan hanya diakui ‘eksistensinya’ oleh manusia di tengah lara dan kemalangan. Di sini Jokpin menggunakan bahasa puisi yang jenaka untuk mengungkapkan visi, nilai-nilai hidup, dan penghayatan imannya. Pertarungan hidup terus-menerus yang ia hadapi telah membawanya ke jalan spiritual estetis dimana ayat-ayat Tuhan ia coba hayati dan terjemahkan ke dalam puisi.

Dalam kaitannya dengan nilai-nilai hidup, Jokpin banyak terpengaruh oleh latarbelakang personalitas kedua orangtuanya, terutama dari karakter ayahnya. Ayah Jokpin merupakan pribadi yang pemaaf, memilih berdamai meski terhadap orang yang telah menyakitinya, dan senang bercanda. Dari ayahnya lah Jokpin belajar bagaimana mencairkan tragedi-tragedi hidup lewat tawa. Seiring perjalanan waktu, menganggap kepahitan hidup sebagai pentas komedi adalah strategi Jokpin menaklukkan dan berdamai dengan dirinya sendiri. Dan dalam puisi, strateginya itu telah mampu menyulap duka menjadi tawa. (Sarah Monica)

Tulisan ini telah diterbitkan sebelumnya oleh Beritabaru.co

Recommended For You

Tulis Komentar