Menghadirkan Empati Saat Pandemi

Reading Time: 3 minutes

Penulis : Muhammad Bakhru Thohir

NgajiGalileo – Namanya Dita, saat ini ia baru saja menyelesaikan studinya di kelas XI, artinya mulai bulan Juni ini ia sudah masuk ke kelas XII. Hari-hari milik Dita selanjutnya tidak akan biasa-biasa saja, bukan hanya karena ia tetap harus sekolah dari rumah, bukan juga soal ekonomi keluarganya yang goyah. Kesedihan yang ia alami berkali-kali lipat lebih sakit dari sekedar tidak bertemu teman atau kelaparan saat pandemi.

Seminggu yang lalu, Ayahnya meninggal setelah beberapa hari dirawat karena Covid-19, ia begitu terpukul. Tentu anda tahu adagium cinta pertama anak perempuan adalah pada ayahnya, begitupun apa yang dirasakan Dita. Ia sangat dekat dengan Ayahnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama, lebih-lebih Dita dan Ayahnya sama-sama pecinta film layar lebar, tak terhitung sudah berapa weekend mereka lalui berdua untuk nonton film.

Kesedihan Dita tidak berhenti sampai sana, persis sehari setelah Ayahnya meninggal, Kakak dan calon keponakan yang masih dikandung juga turut meninggal atas kasus yang sama. Yang lebih membuat sakit, ia adalah anak bungsu dari dua bersaudara, artinya sudah tidak ada lagi kesempatan untuk Dita punya keponakan, meskipun yang lebih sakit atas kepergian ini adalah Kakak Iparnya. Kakak Iparnya saat ini sedang merantau ke kota lain, sulit buat Kakak Iparnya untuk mudik karena akses perjalanan amat sangat dibatasi.

Kegetiran Dita semakin menjadi-jadi, dua hari selepas Kakak dan calon Keponakannya meninggal, Ibunda tercintanya yang menyusul pergi karena covid-19. Pecah sudah tangis Dita, dan saat ini ia hanya bisa karantina sendiri di rumah. Atas kejadian ini kita hanya diberi informasi berupa “dalam sepekan ada 3 kasus kematian karena covid-19 di sebuah kabupaten.”

Bastomi, guru SMP

Kemudian ada pemuda tanggung bernama Bastoni, ia seorang guru SMP. Sebagai seorang yang baru lulus dari fakultas keguruan, Bastoni begitu terbiasa dengan beragam inovasi pendidikan yang menarik, bahkan di masa sulit seperti saat ini, kecerdikannya tak tumpul. Ketika banyak rekan sejawatnya yang berpangku tangan dengan keadaan dan mengajar ala kadarnya, ia begitu cerdik mengolah pembelajaran sehingga tetap menarik diikuti setiap muridnya.

Dengan modal ini, ia begitu digandrungi banyak murid, meskipun usia mengajarnya baru seumur jagung. Para murid mengaku kalau belajar dengan Pak Bastoni begitu menyenangkan, bukan hanya karena pembawaan Pak Bastoni yang menyenangkan, tetapi penjelasan Pak Bastoni tidak bertele-tele dan bisa sesuai dengan zaman sekarang. Terang saja, selama kuliah Bastoni juga sering terlibat dalam kegiatan volunteer yang membuatnya terbiasa dengan inovasi. 

Namun saat ini kelas-kelas Pak Bastoni hanya berisi kesedihan. Sudah tidak ada lagi kelas yang menyenangkan meskipun dilakukan di rumah saja. Sejak 3 hari ini, Bastoni harus dilarikan ke ruang isolasi karena ia ternyata positif covid-19. Sakitnya Bastoni tidak hanya dialami oleh dirinya sendiri, malahan lebih-lebih dirasakan puluhan murid yang mencintainya. Dan atas kejadian ini, tim gugus tugas covid-19 hanya berucap kalau ada penambahan satu kasus positif di daerahnya.

Zara, lulusan kedokteran

Terakhir, ada seorang lulusan dari fakultas kedokteran, namanya Zara. Ia adalah anak tunggal dari pasangan ayah dan ibu yang sudah pensiun. Selama kuliah ia dibiayai oleh beasiswa. Beasiswa yang diterima Zara tak hanya karena ekonomi keluarganya yang minim, tetapi secara kapasitas akademi, Zara memang layak mendapat beasiswa. Ia adalah harapan satu-satunya dari keluarga, bahkan bisa dibilang Zara saat ini adalah tulang punggung keluarga. 

Sudah 6 bulan ini, Zara bekerja di rumah sakit bagian spesialis paru-paru. Atas fokus keilmuan dan kecerdikannya, tentu saja Zara dimasukkan dalam tim untuk mengawal kasus covid-19 yang berkembang di daerahnya. Atas kondisi ini pula, membuat Zara begitu riskan ikut tertular karena saban hari pasti bersinggungan dengan pasien. Dan terang saja, pertahanan Zara akhirnya tembus. Entah karena APD yang kurang atau karena fisiknya yang sedang lemah karena terlalu capek. 

Tumbangnya Zara membuat keluarganya sangat bersedih dan tak henti berdoa. Dan atas kejadian ini, rilis yang kita terima adalah satu tenaga medis kembali terjangkit covid-19.

Krisis kesehatan, bukan melulu soal angka saja

Kisah-kisah yang saya tulis barusan adalah rekaan saya sendiri, saya tidak mengambil kisah-kisah ini atas kejadian di lapangan, tetapi sangat mungkin kejadian yang terjadi di luar sana memang demikian. 

Setiap pasien covid-19 memiliki kisah masing-masing dan sungguh naif ketika kita hanya berfokus pada deretan angka. 

Melihat krisis kesehatan yang melanda kita saat ini hanya dari angka, akan mencerabut kita dari sisi kemanusiaan yang semestinya harus dihadirkan lebih awal.

Angka-angka yang disuguhkan pada kita hanya menghadirkan data yang kering dan tak bernyawa. Kita perlu menghadirkan empati atas setiap informasi yang didapat. 

Bahwa setiap penambahan pasien yang masih terjadi saat ini berarti penambahan kesedihan dalam satu keluarga. Kita juga perlu sadar bahwa satu nyawa itu begitu berharga.

Kita perlu heran ketika kita masih bisa bernafas lega mendengar informasi “kasus kematian karena corona hari ini menurun”. Berapa pun jumlahnya, nyawa begitu berharga. Belum lagi kalau ternyata dia yang meninggal punya posisi strategis di lingkungannya. 

Kita perlu sadar bahwa kita semua saat ini sedang dalam kondisi krisis, kita semua dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Mari saling jaga, mari hadirkan empati atas setiap kasus yang masih terus tumbuh. Agar kita bisa lebih berjaga-jaga dan tidak meremehkan.

Kita tidak bisa berpangku tangan pada orang lain, yang bisa menyelamatkan diri kita masing-masing, ya diri kita sendiri. Atau, siap-siap saja menjadi pasien selanjutnya ….

Recommended For You

Tulis Komentar