Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Reading Time: 2 minutes

Judul itu merupakan nama sebuah buku. Buku Langka. Untuk masa kini, tak ada lagi penerbit yang mencetaknya. Bahkan di pasar buku bekas online, harganya secara rupiah sungguh tak masuk akal. Itu pun tak dapat dipastikan ada yang mau menjual koleksinya. Kalau toh ada, hanya buku bajakan. Mending bajakan, ini potokopian!.

Memakai sandal bajakan adalah kesederhanaan. Membaca buku potokopian? Hina. Dan itu terpaksa saya lakukan. Kehinaan dalam keterpaksaan apakah Hina?. Saya tidak tahu. Dan saya tetap membacanya.

Saya mengidamkan buku ini lama sekali. Setidaknya semenjak mengeyam bangku kuliah. Dan sebulan lalu, seorang sahabat muda memberinya cuma-cuma. Dua seri sekaligus dan girang bukan kepalang saat tangan ini menerimanya. Saya menyambut kehinaan itu dengan bahagia.

Jika dengan menulis ini, cemoohan datang bertubi-tubi dari kaum intelektual yang mendewakan Hak Cipta, tentu saya menerimanya. Berlapang dada, menelan semuanya.

Bahkan, balasan sudah saya siapkan. Sampaikan pada Negara, untuk menelusuri Hak Cipta buku ini untuk sedapatnya bisa diterbitkan ulang dan dibagikan pada generasi milenial dan generasi Z yang lagi gandrung-gandrungnya dengan Youtube.

Supaya setelah menikmati musiknya Blackpink, juga diimbangi dengan sejarah tanah tempat lahirnya yang dibangun dengan darah, air mata dan nyawa.

Dari buku yang ditulis sastrawan kebangggaan bangsa kita, setidaknya secuil peristiwa paska 65 dapat dipetik pelajaran. Bahwa kita masih mewarisi konflik antar anak bangsa. Antara tirani dengan rakyatnya. Antara tirani dan yang bercita-cita membangun tirani berikutnya.

Seperti halnya dari zaman berdirinya Singosari hingga runtuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Hingga legenda Ratu Kalinyamat. Kini, kita masih mewarisinya.

Dari sekian bukunya Pram yang mayoritas dikemas dalam karya sastra fiksi. Buku ini beda. Ini Fakta, bukan fiksi. Bukan fakta yang difiksikan. Bukan. Ini buku tentang kegelisahan hati yang dialami penulis saat berada di pembuangan. Dia dihukum tanpa dihadirkan di meja pengadilan. Bukan sebagai kriminil. Bukan. Dia Tapol. Tahanan Politik. Ini buku harian. Ini pengakuan diri. Ini memoar!.

Tak kuasa jari ini menuliskan ulang, cerita-cerita yang menyayat hati manusia yang berperasaan. Pada zaman di mana daging ayam sering dibuang-buang, dijadikan makanan ayam.

Tak mampu, saya menyampaikan cerita, seseorang dipaksa bekerja membuka lahan pertanian dan membuka jalan tanpa waktu.

Tanpa asupan makanan yang cukup. Dia, mereka memakan apa saja. Dari cicak yang diprotesi kakinya agar tidak mengganggu tenggorokan saat ditelan hidup-hidup. Hingga memakan tikus untuk memenuhi kebutuhan tubuh yang rapuh penuh bekas luka dipukuli petugas.

Entah siapa yang kuasa menugaskan hal seperti itu, kecuali kekuasaan tirani. Kecuali kekuasaan yang tak bisa menerima kritik. Kecuali yang menginginkan kebenaran dipeluk sendiri.

Tak boleh ada kebenaran pada orang atau pihak lain. Apalagi rakyat kecil yang untuk membeli rumah saja tak mampu membayar uang muka. Tidak boleh.

Entahlah, saya ingin menulisnya sekarang ini. Sambil menikmati kehinaan membaca buku potokopian. Buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Tulisan ini telah diterbitkan sebelumnya oleh Mustakimra

Recommended For You

Tulis Komentar