Menghadapi Pandemi Ala Kaum Sufi

Reading Time: 4 minutes

Penulis : Muhammad Bakhru Thohir

NgajiGalileo – Ajaran sufistik adalah pedoman yang lentur dan bisa masuk ke berbagai lini, termasuk juga dalam menghadapi ruwetnya penanganan corona yang bersama-sama kita hadapi.

Melangkah agak mundur, tidak hanya soal sufistik tetapi semua dalil keagamaan yang sementara ini sering dianggap menghambat perkembangan sains karena kres, nyatanya tidak selalu seperti itu. Saat kita mendudukkan ajaran keagamaan dengan tepat, tahu makna, tahu konteks dan tidak main cocokologi, kita akan menemukan sambungan-sambungan yang menarik antara ajaran agama dan kehidupan nyata kita. 

Senada dengan kacamata filsafat, memang pada mulanya hubungan agama dan sains adalah konflik. Hal ini sangat wajar karena basis kepercayaan yang digunakan sudah berbeda, agama bersifat dogmatis dan tetap, sementara sains tidak memiliki dogma dan ilmunya sangat tentatif, satu-satunya dogma dalam sains adalah menggunakan metode ilmiah. Jadi wajar saja ketika awam agama dan awam sains bertemu, ya akan terjadi konflik. 

Namun, komunikasi sains dan agama tidak hanya soal konflik, tetapi ada juga model hubungan independen yang artinya satu sama lain tidak intervensi, lalu ada dialog ketika kedua sisi mulai ada pembicaraan-pembicaraan kecil dan terakhir adalah integrasi, saat mereka sudah masuk dalam level kolaborasi. 

Nah kali ini, saya tidak tahu persis komunikasi berada di level dialog atau kah malah sudah integrasi, tetapi yang pasti saya akan menunjukan sedikit ajaran sufistik yang ternyata dalam praktiknya sangat memenuhi kaidah saintifik.

***

Dalam kitab Al-Hikam karya sufi besar dari Iskandaria, Ibn ‘Atha’illah, terdapat sebuah aforisme yang begitu indah dan bisa kita pegang dalam menghadapi masa sulit pandemi saat ini, hikmah itu sebagai berikut;

Ijtihaaduka fiimaa dhumina laka wa taqshiiruka fiimaa thuliba minka daliinun ‘alaa inthimaasil bashiirati minka (Manakala engkau bekerja keras untuk meraih hal-hal yang sudah dijamin untukmu, sementara engkau teledor untuk mengerjakan hal-hal yang merupakan keharusan bagimu, maka itu adalah pertanda engkau kehilangan mata batin)

Dalam aforisme di atas, setidaknya kita bisa memetik dua buah hikmah, pertama adalah soal tanggung jawab dan kedua soal mindfulness, yang mana keduanya akan bermuara pada terbukanya mata batin.

Dalam hidup kita, kita akan menemui sisi yang menjadi tanggung jawab kita dan sisi yang tidak. Ini berkaitan dengan keistimewaan manusia yang diberikan kehendak oleh yang maha Hidup. Dalam hidup, sejatinya kita hanya perlu fokus pada sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita saja, yang tidak menjadi tanggung jawab kita seharusnya cukup disikapi dengan santai, meskipun seringkali kita malah lebih fokus pada apa-apa yang bukan jadi tanggung jawab kita.

Kita sering mendengar contoh atas pembagian tanggung jawab ini dalam konteks berdoa. Berdoa itu tugas kita (makhluk) sementara mengabulkan doa adalah tugas Allah. Artinya, kita sebenarnya cukup berdoa yang ihlas, kita tidak perlu mencampuri urusan Allah soal kapan doa itu dikabulkan, dalam bentuk apa dan dengan cara apa.

Kita “berdoa dengan baik” adalah sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita, sesuatu yang belum dijamin. Sementara rejeki atau hal-hal yang dikabulkan atas doa bukanlah tanggung jawab kita, dan itu sudah dijamin. 

Nah, urusan tanggung jawab ini berkelindan dengan sisi mindfulness atau sadar penuh yang kita miliki. Ketika kita sadar penuh bahwa tugas kita adalah berdoa, tentu kita tidak “ngoyak-ngoyak” Tuhan untuk segera mengabulkan doa kita, pertama karena itu tidak sopan yang kedua karena kita sadar itu bukan urusan makhluk.

Jadi sampai sini, kita perlu kembali melihat pada diri, apakah selama ini kita telah fokus pada apa yang menjadi tugas kita (sesuatu yang belum dijamin) atau malah lebih banyak mencampuri urusan yang bukan tanggung jawab kita (sesuatu yang sudah dijamin)?

Lalu dalam urusan virus corona bagaimana? Ya sama saja, kita tentu harus fokus pada sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita. Apa yang menjadi tanggung jawab kita? Yakni tubuh kita sendiri. Lalu apa yang tidak menjadi tanggung jawab kita? Ya tentu saja virus.

Virus berkembang biak dan menempel pada inang adalah sebuah skema alamiah, itu kehendak Allah, sudah diatur, dijamin, dan yang pasti itu bukanlah tanggung jawab kita. Sebagai makhluk, virus tentu punya insting yang sama dengan makhluk yang lain, yakni bertahan hidup. Persis seperti manusia saat lapar, apa yang dilakukan manusia saat lapar? Makan. Apa yang dilakukan virus untuk bertahan hidup? Mencari inang baru.

Perbedaan manusia dan virus adalah terletak pada akal. Manusia lapar, di depannya tak ada makanan, ia lalu bercocok tanam atau mencari makan di hutan. Tetapi saat di depan virus tak ada lagi inang untuk hidup, ya ia akan mati. Virus tidak bercocok tanam dan berjalan-jalan mencari inang baru.

Kita tidak bisa dan tidak perlu meminta agar virus berhenti mencari inang. Itu adalah permintaan yang bisa dibilang konyol. Permintaan seperti itu serupa meminta manusia jangan cari makan saat lapar. Serupa juga dengan meminta apel tidak jatuh ke tanah dan melawan hukum gravitasi. Karena hal-hal itu alamiah, itu bukan tanggung jawab kita, itu semua sudah atas kendali Allah.

Namun yang perlu dicatat, berdoa agar virus berhenti mencari inang itu berbeda dengan kita memusnahkan virus. Kita tidak berdoa agar virus mencari inang bukan berarti kita harus membiarkan virus hidup. Perlu dibedakan antara sesuatu yang alamiah yang tidak perlu kita doakan dan sebuah ikhtiar. Memusnahkan virus dengan desinfektan adalah ikhtiar, dan ini sama hukumnya dengan kita menjalankan protokol kesehatan. 

Ketika kita mengikuti cara sufi, yang perlu kita lakukan dalam menghadapi virus adalah fokus pada yang menjadi tanggung jawab kita, yakni tubuh kita.Kita menjauhi kerumunan, memakai masker, tetap di rumah saja, berolahraga, minum vitamin, itu semua sejatinya adalah separuh jalan sufistik.

Kenapa separuh?

Karena elemen sufistik yang perlu hadir dalam hal ini selain tanggung jawab adalah sadar penuh, seperti yang termuat dalam aforisme yang saya jadikan basis dalam esai ini. Sehingga jalan sufistik dalam menghadapi virus adalah bermula dari hati dan pikiran yang penuh dengan ketakwaan pada Tuhan, lalu tercermin dengan kesadaran bahwa yang menjadi fokus dalam hidup adalah sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita, lalu kita sadar bahwa tanggung jawab kita adalah menjaga diri, bukan “memaksa” virus berhenti mencari inang, dan karena kita sadar bahwa tanggung jawab kita adalah menjaga diri, akhirnya kita hidup bersih dan melakukan protokol kesehatan.

Sampai di sini, tentu kita bisa melihat bahwa perbuatan yang terlihat hanya berdimensi sains seperti melakukan protokol kesehatan bisa bernilai sufistik yang sangat dalam. Bahkan sangat mungkin akan bermuara pada terbukanya mata batin, karena sadar bahwa tugas dan tanggung jawab kita adalah menjaga diri, bukan ngurusi virus yang rezekinya sudah diatur Allah.

Recommended For You

Tulis Komentar