Filsafat Socrates, Plato, dan Aristoteles

Share artikel ini

Reading Time: 2 minutes

Socrates adalah filsuf Yunani yang lahir pada tahun 469 SM dan meninggal pada tahun 399 SM. Terkenal sebagai ahli fikir yang dalam sejarah pengetahuan mendapatkan tempat dan penghargaan sesuai dengan hasil karya dan fikirannya. Socrates adalah murid Pythagoras yang utama.

Sebagaimana para Sofis, Sokrates pun memulai filsafatnya dengan bertitik tolak pada pengalaman sehari-hari dan dari kehidupan yang konkret. Tetapi ada satu perbedaan yang penting sekali antara Sokrates dengan kaum Sofis.

Menurut pendapat Socrates, ada kebenaran objektif yang tidak bergantung pada saya dan pada kita. Sokrates menekankan pada masalah etika, seperti keadilan, kebenaran, dan kebaikan.

Baca Juga:   Pendapat Para Ahli: Pentingnya Paparan Sinar Matahari di Tengah Pandemi

Socrates menggunakan metode tertentu untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif, Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan dengan cara menganalisis pendapat-pendapat. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis sedangkan jawaban-jawaban selanjutnya ditarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat
disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut.

Metode yang digunakan oleh Socrates disebut dengan dialektika, karena dalam pengajarannya dialog memegang peranan penting. Sebutan yang lain ialah maieutika, seni kebidanan, karena dengan cara ini Socrates mengajarkan ajarannya kepada orang lain dengan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang bidan kebenaran yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Sedangkan, Plato lahir pada tahun 427 SM dan meninggal pada tahun 347 SM. Dasar pengetahuan yang benar ialah kenyataan Ilahi. Kenyataan Ilahi sungguh-sungguh ada, sedangkan kenyataan inderawi adalah semu.

Baca Juga:   Eksperimen Menyenangkan: Cara Membuat Permen Kayu Gula yang Manis dan Lucu

Plato meneruskan usaha Socrates lebih maju lagi dengan mengemukakan bahwa hakikat atau esensi segala sesuatu bukan hanya sebutan saja, tetapi memiliki kenyataan yang lepas dari hal yang konkrit yang disebut dengan ide. Ide-ide itu nyata ada, di dalam dunia idea.

Bersama dengan Socrates dan Plato, Aristoteles juga mempunyai pandangan bahwa kebenaran bersifat mutlak dan umum. Bagi Aristoteles, pengertian inderawi yang konkret dan banyak telah mengandung pengertian umum yang diperoleh melalui daya abstraksi akal. Ide diperoleh melalui daya abstraksi akal.

Dimensi Ilahi telah hadir dalam kenyataan duniawi. Jadi, kenyataan bukan dua melainkan satu. Dimensi metafisis bukan terpisah melainkan ikut hadir dalam dimensi empiris. Puncak kebenaran terdapat pada keputusan. Kenyataan konkret dalam pandangan Aristoteles bersifat multidimensional yaitu, dimensi empiris, dimensi hakikat, dan dimensi ada. Aristoteles mempertahankan keyakinan spontan dan umum bahwa segala pengetahuan diperoleh dari indera

Baca Juga:   APA SAJA MANFAAT MEMPELAJARI BIOLOGI BAGI KEHIDUPAN MANUSIA?

Sumber bacaan:

  • Adelbert Snijders, Manusia dan Kebenaran: Sebuah Filsafat Pengetahuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), hlm. 49-51.
  • Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 40-41.
  • Richard Osborne, Filsafat untuk Pemula, terj. Hardono Hadi, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 11-12.

Share artikel ini

Recommended For You

Tulis Komentar